Archive for the ‘Let’s Make A Movie’ Category

Konsep Penyutradaraan :

Posted: April 29, 2013 in Let's Make A Movie
Director
1. Sutradara adalah suatu profesi yang disandang oleh seorang yang bertanggung jawab sepenuhnya secara profesional dalam melaksanakan suatu proses produksi / penyiaran paket televisi dengan kemampuan wawasan yang luas, kreatif, imaginative, interpretiv, inovative, dalam berkarya dan bermanfaat bagi orang lain dan dirinya sendiri.
 
2. Menurut Don Livingston : Kemampuan seorang sutradara yang baik adalah hasil pengalaman dan bakat yang tidak mungkin diuraikan.
 
3. Menurut Hamzah A. dan Ananda. S : Sutradara adalah orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab dalam masalah artistik dan teknis (bila dalam teater ).
 
Apapun itu kesimpulannya adalah sutradara adalah orang yang bertanggung jawab pada hasil karya berupa pertunjukan / audio visual yang mengandung visi misi yang ingin disampaikan secara teknik / artistik melalui media yang dianggap bermanfaat secara positif bagi khalayak banyak ataupun bagi dirinya sendiri.
 
Beberapa istilah sutradara :
 
1. Sutradara ( Film & Televisi ).
2. Pengarah Acara ( Televisi ).
3. Program Director ( Televisi ).
4. Producer Director ( Televisi & Film ).
 
Penyutradaraan Sutradara.
 
Sutradara memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat. Di lapangan seorang sutradara berperan sebagai manajer, kreator, dan sekaligus inspirator bagi anggota tim produksi dan para pemeran. Peran yang sedemikian besar mengharuskan sutradara memahami benar konsep cerita, memahami situasi lingkungan maupun psikologis para pelibat produksi, dan juga harus memahami bagaimana menjalin hubungan yang baik dengan semua pelibat produksi. Ibarat tubuh manusia, sutradara adalah otaknya, dan yang lain adalah seluruh anggota badan. Otak memerlukan anggota badan untuk mewujudkan gagasan, badan memerlukan otak untuk mengendalikan.
 
1. Tugas Sutradara.
 
Menurut sutradara berbakat, Harry Suharyadi, tugas seorang sutradara adalah menerjemahkan atau menginterpretasikan sebuah skenario dalam bentuk imaji/gambar hidup dan suara. Pada umumnya, seorang sutradara tidak merangkap sebagai produser, meskipun di Amerika cukup banyak sutradara yang merangkap produser seperti beberapa kali Kevin Costner merangkap sutradara sekaligus produser.Pada umumnya, apa pun bentuk produksi audio visual selalu terbagi menjadi tiga tahap, yakni :
 
1) Praproduksi.
2) Produksi atau shooting.
3) Pascaproduksi.
 
Tugas sutradara adalah pada tahap produksi. Namun bukan berarti sutradara tidak perlu mengetahui aspek praproduksi dan pasca produksi. Pemahaman praproduksi akan mencegah sikap arogan dan tutuntutan yang berlebih atas peralatan dan aspek-aspek penunjang produksi yang notabene merupakan tugas tim praproduksi. Misalnya, sutradara tidak terlalu menuntut disediakan pemeran yang honornya mahal apabila ia menyadari bahwa tim budgeting tidak menganggarkan dana berlebih untuk honor pemeran. Pemahaman pascaproduksi akan mencegah sutradara menginstruksikan pengambilan gambar dengan komposisi atau enggel yang penyambungannya mustahil dilakukan oleh editor.
 
2. Rumus 5 – C.
Sebelum seorang sutradara mengarahkan semua pemain dalam sebuah produksi, ada baiknya sutradara memiliki kepekaan terhadap Rumus 5 – C, yakni close up (pengambilan jarak dekat), camera angle (sudut pengambilan kamera), composition (komposisi), cutting (pergantian gambar), dan continuity (persambungan gambar – gambar) (Hartoko 1997:17). Kelima unsur ini harus diperhatikan oleh sutradara berkaitan dengan tugasnya nanti di lapangan.
 
Close Up.
 
Unsur ini diartikan sebagai pengambilan jarak dekat. Sebelum produksi (shooting d I lapangan) harus mempelajari dahulu skenario, lalu diuraikan dalam bentuk shooting script, yakni keterangan rinci mengenai shot-shot yang harus dijalankan juru kamera. Terhadap unsur close up, dia harus betul-betul memperhatikan, terutama berkaitan dengan emosi tokohnya. Gejolak emosi, peradaban gundah sering harus diwakili dalam shot – shot close up. Bagi seorang kritikus film, sering unsur menjadi poin tersendiri ketika menilai sebuah film. Untuk itu, unsur ini harus menjadi perhatian sutradara.
 
Camera Angle.
 
Unsur ini sangat penting untuk memperlihatkan efek apa yang harus muncul dari setiap scene (adegan). Jika unsur ini diabaikan bisa dipastikan film yang muncul cenderung monoton dan membosankan sebab camera angle dan close up sebagai unsur visualisasi yang menjadi bahan mentah dan harus diolah secermat mungkin. Harry mencontohkan, untuk film – film opera sabun sering ada pembagian kerja antara pengambilan gambar yang long shot dan close up untuk kemudian diolah dalam proses editingnya. Variasi pengambilan gambar dengan camera angle dapat mengayakan unsur filmis sehingga film terasa menarik dan memaksa penonton untuk mengikutinya terus.
 
Composition.
 
Unsur ini berkaitan erat dengan bagaimana membagi ruang gambar dan pengisiannya untuk mencapai keseimbangan dalam pandangan. Composition merupakan unsur visualisasi yang akan memberikan makna keindahan terhadap suatu film. Pandangan mata penonton sering harus dituntun oleh komposisi gambar yang menarik. Tidak jarang para peresensi film memberikan penilaian terhadap unsur ini karena unsur inilah yang akan menjadi pertaruhan mata penontonnya. Jika aspek ini diabaikan, jangan harap penonton akan menilai film ini indah dan enak ditonton. Seorang sutradara harus mampu mengendalikan aspek ini kepada juru kamera agar tetap menjadi komposisi secara proporsional berdasarkan asas komposisi.
 
Cutting.
 
Diartikan sebagai pergantian gambar dari satu scene ke scene lainnya. Cutting termasuk dalam aspek pikturisasi yang berkaitan dengan unsur penceritaan dalam urutan gambar-gambar. Sutradara harus mampu memainkan imajinasinya ketika menangani proses shooting. Imajinasi yang berjalan tentunya bagaimana nantinya jika potongan – potongan scene ini diedit dan ditayangkan di monitor.
 
Continuity.
 
Unsur terakhir yang harus diperhatikan sutradara adalah continuity, yakni unsure persambungan gambar-gambar. Sejak awal, sutradara bisa memproyeksikan pengadegan dari satu scene ke scene lainnya. Unsur ini tentunya sangat berkaitan erat dengan materi cerita. Sering penonton merasa film yang ditontonnya loncat ke sana atau ke mari tidak karuan sehingga membuat bingung. Terhadap kasus ini karena sutradara tidak mampu memperhatikan aspek kontinuitas dari film yang digarapnya.
 
3. Unsur Visual (Visual Element).
 
Selanjutnya masih dalam tahap persiapan penyutradaraan, seorang sutradara juga harus memahami unsur-unsur visual (visual element) yang sangat penting dalam mengarahkan seluruh krunya. Ada enam unsur visual yang harus diperhatikan, sikap pose (posture), gerakan anggota badan untuk memperjelas (gesture), perpindahan tempat (movement), tindakan/perbuatan tertentu (purpose action), ekspresi wajah (facial expression), dan hubungan pandang (eye contact) (Hartoko, 1997:25).
 
Sikap/Pose.
 
Jika anda mengarahkan para pemain dalam film yang anda buat, hal pertama yang menjadi arahan adalah sikap / pose (posture) pemainnya. Ini sangat erat kaitannya dengan penampilan pemain di depan kamera. Dengan monitor yang tersedia, sutradara harus mampu memperhatikan pose pemainnya secara wajar dan memenuhi kaidah dramaturgi. Sebelum pose sesuai dengan tuntutan skenario usahakan sutradara jangan putus asa terus mencoba. Apalagi untuk kalangan indie yang cenderung pemainnya masih baru atau belum pernah main sama sekali (tetapi gratis).
 
Gerakan Anggota Badan (Body Language).
 
Sesuai dengan shooting script, tentunya seorang atau beberapa pemain harus menggerakkan anggota tubuhnya. Namun, gesture yang mereka mainkan harus betul-betul kontekstual. Artinya, harus betul – betul nyambung dengan gerakan anggota tubuh sebelumnya. Misalnya, setelah seorang pemain minum air dari gelas tentunya gerakan berikutnya mengembalikan gelas tersebut dengan baik. Jangan sampai ada gerakan-gerakan tubuh yang secara filmis dapat menimbulkan kejanggalan.
 
Perpindahan Tempat (Moving).
 
Seorang Sutradara dengan jeli akan memperhatikan dan mengarahkan setiap perpindahan pemain pendukungnya. Perpindahan pemain ini tentunya dalam rangka mengikuti shooting script yang dibuat sang sutradara sendiri. Di sini, sutradara yang baik harus mampu mengarahkan pemainnya melakukan perpindahan secara wajar dan tidak dibuat – buat. Perpindahan pemain harus alami sesuai dengan jalan cerita yang telah tersusun. Improvisasi bagi pemain memang tidak jadi masalah, tetapi tetap dalam perhatian sutradara. Untuk itu, menonton pertunjukan teater bagi seorang sutradara dapat mengasah ketrampilan penyutradaraannya dan juga sering memberikan penilaian terhadap akting pemain dalam sebuah film dapat memperkaya kepiawaiannya dalam mengarahkan pemain.
 
Tindakan Tertentu.
 
Aspek ini tentunya dikaitkan dengan casting yang diberikan kepada seseorang. Casting disini diartikan peran yang dijalankan pemain film dalam menokohkan karakter seseorang yang terlibat dalam cerita film tersebut. Selain ada casting ada juga yang disebut cameo, yakni penampilan seseorang dalam sebuah film tetapi membawakan dirinya sendiri (tidak menokohkan orang lain). Dalam hubungan dengan casting, seorang pemain film harus diarahkan sang sutradara agar melakukan tindakan sesuai dengan tuntunan skenario. Terkadang dalam proses produksi ada pemain yang mencoba menawar kepada sutradara sehubungan dengan akting yang harus dijalankan. Tidak semua sutradara mau meluluskan keinginan kemauan pemain, tetapi juga tidak semua pemain mau meluluskan kemauan sutradara. Pada kondisi seperti ini tinggal dua pilihan, pemain diganti atau mengganti adegan. Mengapa casting dalam kegiatan produksi film cukup lama karena karena persoalan tersebut? Saat film Boy’s Don’t Cry diproduksi, dilakukan casting yang memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini dilakukan agar siapa pun yang menjadi pemain film tersebut sesuai dengan keinginan sutradara dan tuntutan skenario.
 
Ekspresi Wajah.
 
Unsur ini sering berkaitan dengan penjiwaan terhadap naskah. Wajah merupakan cermin bagi jiwa seseorang. Konsep inilah yang mendasari aspek ini harus diperhatikan betul oleh sutradara. Terutama untuk genre film drama, unsur ekspresi wajah memegang peran penting. Banyak juga film action semacam Gladiator menajamkan aspek ekspresi wajah. Shot – shot close up yang indah dan pas dapat mewakili perasaan sang tokoh dalam sebuah film. Contoh kecil sering ditampilkan dalam perfilman India. Jika seseorang sedang jatuh cinta ukuran gambar big close up bergantian antara pria dan wanita. Namun sutradara juga harus memperhatikan penempatannya serta waktu yang tepat. Jika tidak tepat, komunikasi dalam film tersebut gagal. Di sini, ada pedoman time is key, waktu adalah kunci.
 
Hubungan Pandang.
 
Hampir sama dengan ekspresi wajah, hubungan pandang di sini diartikan adanya kaitan psikologis antara penonton dan yang ditonton. Untuk membuat shot-shot-nya, biasanya sutradara selalu memberikan arahan kepada pemain film agar menganggap kamera sebagai mata penonton. Dengan cara seperti ini, biasanya kaidah hubungan pandang ini akan tercapai. Dengan mengibaratkan kamera sebagai mata penonton, berarti pemain harus berlakon sebaik mungkin untuk berkomunikasi dengan penonton lewat lensa kamera. Dengan demikian, apa pun yang akan dilakonkan pemain seolah-olah ada yang mengawasi, yakni kamera sebagai representasi dari penonton.
 
Dengan menguasai Rumus 5 C dan Visual Element secara baik dan benar bisa dipastikan seorang sutradara akan mampu membuat film menjadi tontonan menarik dan munculnya situasi komunikatif antara tontonan dan penonton. Di sinilah alasan mengapa sebuah film dianggap sebagai produk komunikasi massa periodik. (Riezky Adrian, 29/4/2013).
Acting
 
1. Karakter Protagonis : Karakter ini sering disebut juga peran utama. Ia mewakili sisi kebaikan dan mencerminkan sifat – sifat kebenaran yang mewarnai setiap aktivitasnya dalam cerita. Pada beberapa naskah, karakter ini biasanya mewakili sosok pahlawan, pembela kebenaran, atau tokoh yang memikul tanggung jawab.
 
2. Karakter Sidekick : Karakter ini berpasangan dengan karakter protagonis. Tugasnya adalah membantu setiap tugas yang yang diemban sang karakter protagonis. Karakter ini biasanya bertindak sebagai teman, guardian “pelindung”, penolong,  atau guru “penasihat” yang membantu sang protagonis.
 
3. Karater Antagonis : Karakter antagonis selalu berlawanan dengan karater protagonis. Ia selalu berupaya mengagalkan setiap upaya karakter protagonis dalam menyelesaikan dan tanggung jawabnya. Kita sering melihat karakter ini dilambangkan sebagai musuh atau orang jahat yang berhadapan langsung dengan tokoh protagonis.
 
4. Karakter Kontagonis : Adalah karakter yang membantu setiap aktivitas yang dilakukan karakter antagonis dalam mengagalkan langkah sang protagonis. Tokoh ini biasanya dilambangkan sebagai tokoh yang licik.
 
5. Karakter Skeptis : Sesuai dengan sifat skeptis “Cuek, Keras Kepala, Angkuh, Berperasangka Buruk Dan Sering Meremehkan”  terhadap tokoh protagonis dan selalu menganggap bahwa tokoh protagonis ini adalah pecundang. Walaupun bukan lawan, tokoh ini selalu muncul mengacaukan segala rencana yang dijalankan sang protagonis. (Riezky Adrian, 29/4/2013).

Apa Itu Film …?

Posted: April 29, 2013 in Let's Make A Movie
Think
 
Film adalah media komunikasi yang bersifat audio visual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu. (Effendy, 1986: 134). Pesan film pada komunikasi massa dapat berbentuk apa saja tergantung dari misi film tersebut. Akan tetapi, umumnya sebuah film dapat mencakup berbagai pesan, baik itu pesan pendidikan, hiburan dan informasi. Pesan dalam film adalah menggunakan mekanisme lambang – lambang yang ada pada pikiran manusia berupa isi pesan, suara, perkataan, percakapan dan sebagainya.
 
Film juga dianggap sebagai media komunikasi yang ampuh terhadap massa yang menjadi sasarannya, karena sifatnya yang audio visual, yaitu gambar dan suara yang hidup. Dengan gambar dan suara, film mampu bercerita banyak dalam waktu singkat. Ketika menonton film penonton seakan-akan dapat menembus ruang dan waktu yang dapat menceritakan kehidupan dan bahkan dapat mempengaruhi audiens.
 
Dewasa ini terdapat berbagai ragam film, meskipun cara pendekatannya berbeda-beda, semua film dapat dikatakan mempunyai satu sasaran, yaitu menarik perhatian orang terhadap muatan-muatan masalah yang dikandung. Selain itu, film dapat dirancang untuk melayani keperluan publik terbatas maupun publik yang seluas-luasnya.
 
Pada dasarnya film dapat dikelompokan ke dalam dua pembagian dasar, yaitu kategori film cerita dan non cerita. Pendapat lain menggolongkan menjadi film fiksi dan non fiksi. Film cerita adalah film yang diproduksi berdasarkan cerita yang dikarang, dan dimainkan oleh aktor dan aktris. Pada umumnya film cerita bersifat komersial, artinya dipertunjukan di bioskop dengan harga karcis tertentu atau diputar di televisi dengan dukungan sponsor iklan tertentu. Film non cerita adalah film yang mengambil kenyataan sebagai subyeknya, yaitu merekam kenyataan dari pada fiksi tentang kenyataan. (Sumarno, 1996:10).
 
Dalam perkembangannya, film cerita dan non cerita saling mempengaruhi dan melahirkan berbagai jenis film yang memiliki ciri, gaya dan corak masing-masing. Seperti halnya dengan film Pendekar Awan dan Angin yang saat ini dibahas penulis, film ini termasuk film cerita karena ceritanya dikarang yang dipertunjukan ditelevisi dengan dukungan iklan.
 
Film cerita agar tetap diminati penonton harus tanggap terhadap perkembangan zaman, artinya ceritanya harus lebih baik, penggarapannya yang profesional dengan teknik penyuntingan yang semakin canggih sehingga penonton tidak merasa dibohongi dengan trik-trik tertentu bahkan seolah-olah justru penonton yang menjadi aktor/aktris di film tersebut.
 
Dalam pembuatan film cerita diperlukan proses pemikiran dan proses teknis, yaitu berupa pencarian ide, gagasan atau cerita yang digarap, sedangkan proses teknis berupa keterampilan artistik untuk mewujudkan segala ide, gagasan atau cerita menjadi film yang siap ditonton.
 
Jenis – jenis Genre dan Film :
 
# Film Horor
Film jenis ini biasanya bercerita tentang hal-hal mistis , supranatural, berhubungan dengan kematian, atau hal-hal di luar nalar yang lain. Film horor ini memang dibuat menyeramkan agar pentonton ketakutan dan merasa ngeri.
 
# Film Drama

Film dengan kategori ini termasuk lebih ringan dibanding dengan film horor. Umumnya bercerita tentang suatu konflik kehidupan. Macam- macam film drama bisa kita kategorikan sesuai dengan tema atau ide ceritanya.
 
# Film Romantis

Film yang berkisah tentang konflik percintaan antar manusia. Contohnya adalah Romeo and Juliet (1968).
 
# Film Drama Keluarga (Family)
Film ini umumnya memiliki kisah yang cukup ringan, ide cerita dan konfliknya mudah diselesaikan. Film jenis ini juga cocok untuk ditonton anak kecil.
 
# Film Kolosal

Kolosal sendiri berarti luar biasa besar. Film jenis ini umumnya diproduksi dengan dana yang sangat banyak dan melibatkan banyak sekali pemain, mulai dari pemeran utama sampai figuran. Biasanya, film kolosal hampir selalu bertema sejarah atau zaman kuno yang menampilkan adegan peperangan besar-besaran. Contohnya adalah Gladiator (2000) dan The Last Samurai (2003).
 
# Film Thriller

Tak sedikit yang mengkategorikan film thriller sebagai film horor, hal ini mungkin dikarenakan film thriller sama-sama membuat jantung berdebar seperti saat menonton film horor. Bedanya, film thriller tidak berkisah tentang sesuatu yang mistik atau supranatural yang menjadi ciri khas film horor. Film thriller sendiri dapat diartikan sebagai film yang mendebarkan. Macam-macam film thriller yang banyak beredar biasanya berkisah tentang petualangan hidup seseorang atau pengalaman buruk tertentu yang kadang berkaitan dengan pembunuhan.
 
# Film Fantasi
Tema atau konflik dari film jenis ini tak terlalu berbeda dengan jenis film yang lain. Yang paling membedakan film fantasi dengan film lain adalah setting atau latar belakang serta karakter tokoh unik, yang tidak ada di dunia nyata. Setting waktu film fantasi biasanya masa lampau atau masa depan, tapi ada juga yang bersetting masa sekarang. Contohnya adalah Harry Potter yang populer.
 
# Film Komedi
Sama seperti film fantasi, inti film komedi bisa sama dengan jenis film lain. Yang berbeda adalah adanya unsur komedi atau kelucuan yang bisa membuat penonton tertawa.
 
# Film Misteri
Film misteri adalah film yang mengandung unsur teka-teki. Film jenis ini cukup banyak peminatnya karena alur film yang tidak mudah untuk ditebak. Para penonton pun dipastikan betah mengikuti cerita karena jawaban teka-teki akan disuguhkan di akhir film.
 
# Film Action/Laga

Seperti namanya, film ini mengandung aksi-aksi yang menegangkan. Biasanya ada banyak adegan perkelahian, saling kejar-kejaran, atau aksi menggunakan senjata api.
 
# Sci Fi ( Science Fiction )

Sebenarnya Sci-Fi mencakup tema- tema yang luas dan mempunyai subgenre-subgenre yang mengakibatkan sulit untuk didefinisikan secara jelas. Sci-Fi sendiri adalah salah satu genre dari cerita fiksi (fiction) yang mempunyai ciri khusus yaitu elemen imajinasinya berkaitan erat dan mempunyai kemungkinan untuk dijelaskan menggunakan science atau kemajuan teknologi yag berdasarkan pada hukum alam yang dituangkan pada postulat-postulat science.
 
Film Animasi / Kartun : Film kartun dalam sinematografi dikategorikan sebagai bagian yang integral film yang memiliki ciri dan bentuk khusus. Film secara umum merupakan serangkaian gambar yang diambil dari obyek yang bergerak. Gambar obyek tersebut kemudian diproyeksikan ke sebuah layar dan memutarnya dalam kecepatan tertentu sehingga menghasilkan gambar hidup. Film kartun dalam sinematografi adalah film yang pada awalnya dibuat dari tangan dan berupa ilustrasi di mana semua gambarnya saling berkesinambungan.
 
Film Pendek : Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak negara seperti Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang / sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.
 
Film Panjang : Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.
 
Film Dokumenter : Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal – hal senyata mungkin. (Riezky Adrian, 29/4/2013).

Jobdesk Producer

Posted: February 28, 2013 in Let's Make A Movie
PRODUKSI TV DRAMA
 
BSI
                                                     SINOPSIS PRODUCTION
                                                                     PRESENT
 
“Kisah antara Sejarah dan kehidupan anak muda Jakarta Yang buta akan  Jakarta dan sejarah yang ada dan di tandai dengan sebuah monumen atau patung”
 
                                                                    SERIAL
                                             ”JAKARTA BUTA JAKARTA
 
DESAIN PRODUKSI
Diajukan untuk memenuhi kewajiban tugas akhir jurusan Penyiaran Oleh :
 
                  Bagus Dwi Andrianto              42090609
                  Riezky Adrian                               42091037
                  Doni Andika                                   42091006        
                  Budhi Tri Atmojo                       42091053
                 Dewi Sartika Bintang              42091079
                 Kartika Dewi Muchtar            42091023
                 Isnaeni                                              42091096
 
                                                  Jurusan Broadcasting
                       Akademi Komunikasi Bina Sarana Informatika
                                                                    Salemba
                                                                        2012

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN
 
Desain produksi ini telah disetujui dan disahkan sebagai syarat kelulusan Tugas Akhir Akademi Komunikasi jurusan Broadcasting Bina Saran Informatika.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
DOSEN PEMBIMBING                                                                              KETUA JURUSAN
              (Tofa)                                                                                                (Anisti, S.Sos)
 
Kata Pengantar
 
            Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan puji syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ALLAH SWT atas segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir. Penyusunan tugas akhir ”Drama” merupakan salah satu syarat kelulusan.
 
Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, bimbingan dan saran kepada penulis, yaitu:
  1. Ibu Anisti, S.Sos dan Bapak Tofa selaku Dosen Pembimbing tugas akhir  Bina Sarana Informatika yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan pengarahan dalam menyusun tugas ini.
  2. Ibu Anisti, S.Sos. selaku Kepala Jurusan komunikasi Bina Sarana Informatika.
  3. Kedua oang tua kami yang telah begitu banyak memberikan dorongan, bantuan dan doa restunya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini.
  4. Rekan-rekan mahasiswa lainnya yang telah menjalani kuliah bersama-sama dan banyak membantu dalam informasi berita.
Akhir kata, meskipun penulis telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan tugas ini, namun penulis tetap menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna dan masih terdapat banyak kekurangan dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh kami, untuk itulah kami sangat mengharapkan saran-saran dan kritik yang sifatnya konstruktif.
 
  Jakarta,  April 2012
 
 
 
 
                                                                                                                          Produser,
                                                                                                                         (Budhi Tri Atmojo)
 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1             Latar Belakang Program
 
Jakarta adalah sebuah kota metropolitan dengan orang-orang yang memiliki tingkat kesibukan yang cukup tinggi. Namun dari kesibukan mereka yang cukup tinggi banyak yang melupakan sisa masa sejarah yang sebenarnya hadir di sekitar kita khususnya di daerah Jakarta.
 
Hal itulah yang menjadi keinginan kami untuk turut ikut serta menghadirkan siaran yang bertemakan tentang warga Jakarta yang buta akan kotanya sendiri khusunya dengan sejarah yang ada dan memang dari sejarah itu dibuat simbolisasi suatu tempat dan nama yang sebenarnya menjadikan momok sejarah tersebut.
 
Patung Pembebasan Irian Barat sudah ada lama berdiri di kawasan Jakarta pusat, persis yang kita kenal dengan lapangan banteng. Di tempat itulah tepat berdiri simbolisasi suatu sesajarah tentang konflik papua pada era tahun 1960an. Namun banyak warga Jakarta yang kerap tidak mengenali nama patung tersebut dan lokasinya walaupun sering di lewati oleh warga ibu kota Jakarta.
 
Jenis Program                                   : Drama
Tema                                :Tentang seberapa banyak anak Negeri yang mengetahui hingga sampai sampai saat ini ternyata kurang memahami posisi letak nama patung pembebasan Irian Barat.
 
1.2       Maksud dan Tujuan Pembuatan Program
1.2.1    Akademis
Design Produksi ini dibuat sebagai salah satu kewajiban hak memenuhi syarat kelulusan.
 
 1.2.2    Praktisi
Mengimplementasikan kemampuan akademik baik teori maupun praktek dengan menciptakan sebuah karya Produksi TV Drama.
 
1.2.3    Umum
Menyampaikan Informasi tentang sesuatu peristiwa dalam sebuah karya drama, hingga masyarakaat dapat mengetahui peristiwa atau sejarah dan letak keberadaan inti dari sebuah butki sejarah.
 
1.3           Metode Penelitian
 
1.3.1        Observasi
 
Dalam melakukan riset atau pengumpulan data, di dalam program drama“Jakarta Buta Jakarta“ penulis melakukan observasi riset data dan riset lapangan untuk mengetahui beberapa objek yang akan dimasukkan ke dalam program drama“Jakarta Buta Jakarta“. Observasi adalah peninjauan secara cermat ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ).  Tim melakukan pengumpulan data secara langsung dengan melihat objek penelitian di lokasi yang akan penulis datangi.
 
1.2.1        Studi Pustaka
 
Penulis juga berusaha untuk melengkapi data-data yang berdasarkan fakta seperti melalui internet serta melakukan studi pustaka dengan membaca buku yang berkaitan dengan Drama Televisi. Studi pustaka adalah penelitian ilmiah; kajian; telaahan buku (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Penulis memperoleh data ke perpustakaan melalui literature buku-buku yang relevan dengan cara memiliki beberapa referensi buku-buku sebagai panduan kerja yang berkaitan dengan produksi tugas akhir. Juga dari beberapa website.
 
1.2.2    Referensi Pustaka dan Audio Visual
 
Penulis membuat program Drama Televisi “Jakarta Buta Jakarta“ ini terinspirasi dengan program-program produksi audio visual di televisi yang ada sekarang ini. Seperti Program Coockies (SCTV), Termehek-mehek (Trans TV). Dokumentasi audio visual adalah bersifat dapat didengar dan dilihat ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ).
 
1.3             Ruang Lingkup
 
Penulis membuat program drama televisi “Jakarta Buta Jakarta“ ini sebagai suatu tayangan yang memberikan informasi edukasi yang menghibur, yang dapat di ambil sisi positif oleh penonton, berdurasi tayang selama 24 menit, acara ini mengetengahkan seputar permasalahan dan gaya hidup remaja dengan sejarah. Sesuai dengan tema yang penulis angkat, maka ruang lingkup dari program ini berupa permasalahan dan gaya hidup remaja masa kini.
 
1.5 Deskripsi Program
  1. Kategori Program               : Informasi dan Edukasi
  2. Media                                   : Televisi
  3. Format Program                 : Drama Televisi
  4. Judul Program                    : Jakarta Buta Jakarta
  5. Durasi  Program                 : 24 (menit)
  6. Target Audience                 : 1. Anak – anak (12 – 16)                                                2. Dewasa      (18 – 35)
                                                         3. Orang Tua (36 Ketatas)
7.Jenis Kelamin                         : Pria dan Wanita
8. Status Ekonomi Sosial         : B (Menengah Keatas)
C (Menengah   kebawah)
9.Psikografi                                 : Pemirsa Umum, Remaja, orang tua
  1. Karakteristik Produksi    : Record (single Camera)
  2. Jam tayang                         : Hari Minggu pukul 15:00 wib
  3. Alasan                                 : Pada hari dan jam tayang   tersebut Baik orang dewasa maupun remaja Libur dan banyak menikmati acara Hiburan di televisi
Spesifikasi Kamera
Sony HVR Z7E
  • Jenis / Seri Kamera          : Sony HVR Z7E
  • ND Filter                            : Clear, 1/4, 1/16, 1/64
  • Lensa                                : Carl Zeiss Vario-Sonnar T* zoom lens,
12x (optical), f = 4.4 to 52.8 mm, f = 32.0 to 384 mm* at 16:9 mode, f = 39.5 to 474 mm* at 4:3  mode, filter diameter : 72 mm
  • White balance                  : Auto, one-push auto (A/B positions), indoor (3200 K), outdoor (selectable level -7 to +7, approx. 500K/step), manual WB Temp (selectable 2300K to 15000K, 100K/step)
  • Picture element               :  Approx. 1,037,000 pixels (effective), approx. 1,120,000 pixels (total)
  • Focus                              : Auto,manual (focus ring/one push auto/infinity/ AF assist/ focus macro).
  • Level Gain                       : -6, -3, 0 , 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21 dB
  • Rec Mode                       : HDV1080/50i, DVCAM, DV SP 576/50i (PAL)
  • Audio / video output        : 10-pin connector A/V OUT jack
(composite, unbalanced audio x2ch with the supplied cable).
  • External Mic input            : XLR 3-pin female x 2ch
  • LCD                                  : 3.2-inch type (Viewable area
measured diagonally), XtraFine LCD approx. 921,600 dots, hybrid type, 16:9 aspect ratio.
  • Viewfinder                       : 0.45-inch type (Viewable are measured diagonally), approx. 1,226,880 dots (852x480x3[RGB]), 16:9 aspect ratio.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Komunikasi Masa
Komunikasi adalah suatu proses hubungan percakapan terhadap satu orang atau lebih, yang biasa kerap disebut dengan komunikan. Komunikasi yang banyak di jumpai dalam segi kehidupan masyarakat adalah komunikasi massa.
Komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa dalam hal ini media massa modern yang terdiri dari surat kabar, majalah, radio, televisi dan film.
Beberapa defenisi komunikasi massa :
  1. Komunikasi massa adalah proses di mana informasi diciptakan dan disebarkan oleh organisasi untuk dikonsumsi khalayak (Ruben, 1992)
  2. Komunikasi massa adalah pesan-pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang. (Bittner, 1980)
  3. Komunikasi massa adalah suatu proses dimana komunikator-komunikator menggunakan media untuk menyebarkan pesan-pesan secara luas, dan secara terus menerus menciptakan makna-makna yang diharapkan dapat mempengaruhi khalayak yang besar dan berbeda-beda dengan melalui berbagai cara. (DeFleur dan Denis, 1985).
Seperti kita ketahui, media adalah suatu ‘alat’ yang menghubungkan kita dengan dunia luar. Tanpa media, kita akan sulit mengetahui apa yang terjadi di sekeliling kita. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa media adalah sumber informasi utama bagi semua orang di dunia. Media dapat digolongkan menjadi tiga menurut jenisnya, yaitu media cetak yang terdiri dari koran, majalah, dll. Media elektronik terdiri dari televisi, radio, dan dengan media online. Keunggulan media elektronik adalah :
  • Cepat, dari segi waktu, media elektronik tergolong cepat dalam menyebarkan berita ke masyarakat luas.
  • Ada audio visual, media elektronik mempunyai audio visual yang memudahkan para audiensnya untuk memahami berita.(khusus televisi)
  • Terjangkau luas, media elektronik menjangkau masyarakat secara luas.
      Salah satunya televisi. televisi adalah sebuah media komunikasi terkenal yang berfungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara, baik itu yang monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata “televisi” merupakan gabungan dari kata tele (jauh) dari bahasa Yunani dan visio (“penglihatan”) dari bahasa Latin, sehingga televisi dapat diartikan sebagai “alat komunikasi jarak jauh yang menggunakan media visual/penglihatan.”
Penggunaan kata “Televisi” sendiri juga dapat merujuk kepada “kotak televisi“, “acara televisi“, ataupun “transmisi televisi“. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal sering disebut dengan TV (dibaca: tivi, teve ataupun tipi.)
 
2.1.2 Program Televisi
 
Media televisi tumbuh dan berkembang pada abad ke 20, pamor televisi semakin menanjak. Manusia bisa mengetahui kejadian atau peristiwa dunia dengan hanya menyentuh tombol dengan telunjuk jari. Budaya asing bukan lagi menjadi budaya asing. Itu semua karena perkembangan teknologi audio visual”. Televisi membawa berbagai kandungan informasi, dimana pesan-pesannya dalam kecepatan tinggi menyebar ke seluruh tempat yang dengan mudah diterima tanpa meributkan fasilitas yang terlalu beragam.
 
Hal ini membuat orang bisa secara langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan tanpa membutuhkan waktu yang lama. Disinilah peranan televisi demikian penting dan dibutuhkan oleh manusia.
 
“Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena perkembangan televisi yang sangat cepat dari waktu ke waktu, media ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari”. Hal ini lah yang menjadi dasar dalam pembuatan program drama “Jakarta Buta Jakarta”, agar pesan dari program ini dapat cepat tersampaikan kepada para remaja.
 
2.1.3 Format Acara
 
“Format acara televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreativitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam berbagai kriteria utama yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara tersebut”.
 
2.2 Treatment
 
Program Produksi TV (Drama) ini berdurasi selama 24 menit, akhir dari sebuah drama ini berisi dengan informasi yang bersifat edukasi.
 
2.3 Analisa
Pada pembahasan analisa kali ini, penulis berpendapat bahwa analisa seharusnya tidak penulis lakukan, karena dalam pengertiannya analisa dilakukan oleh orang lain terhadap program ini. Namun, dalam hal ini penulis lebih menjelaskan pada proses kerja setiap bidang produksi.
 
2.3.1` Lembar Kerja Produser
 
Defenisi Produser, Produser adalah seseorang yang bertanggung jawab secara umum terhadap seluruh produksi. Dalam hal ini proses kerja produser mencakup manajemen produksi, seperti perencanaan, pengorganisasian, penyusunan (pra-produksi), penggarapan (produksi), review (pasca produksi).
 

2.3.1.1  Pra produksi

  1. Mempersiapkan rapat redaksi
  • Mengatur waktu yang akan di laksanakan
  • Membuat conference kecil sebelum rapat redaksi
  • Memimpin rapat redaksi
  • Menentukan ide program yang akan di buat
  • Memilih perangkat media yang akan di gunakan dan set visual saat proses editing
  • Mengatur set decoration dengan crew tata artistic
  • 2.Mengusulkan tema dan topic
  • Tema dan topic menjadi acuan utama dari program setelah sebuah ide tercipta, tujuannya agar program yang di buat benar-benar terkonsep.
  • Memilih Crew yang akan bertugas
  • Menentukan crew dengan kinerja yang baik untuk keberlangsungan sebuah program acara.

2.3.1.2  Produksi

  1. Mengawasi dan mengkoordinir crew dalam produksi Bertujuan agar semua hasil meeting (rapat) dapat terealisasikan saat produksi Memberikan arahan apabila crew mendapat kesulitan.

2.3.1.3  Pasca Produksi

  1. Melihat kelengkapan data hasil shooting
  2. Tujuannya merevisi semua hasil shooting, karena akan berpengaruh dalam proses editing.
  3. Menyesuaikan hasil shooting dengan kebutuhan
  4. Bertujuan agar semua hasil gambar dalam proses editing sesuai dengan konsep, dan alur cerita.

EQUIPMENT LIST ( CHECK LIST)

Production Company    : BSI

Produser                          : Budhi Tri Atmojo

Project Title                     : Jakarta Buta Jakarta

Director                            : Doni Andika Kurniadi

No
Nama Alat/prod.
Seri
Jumlah
Keterangan
1
Camera
z-7
1
Ready to use
2
Batere
Lithium pack
2
Max. ready to use
3
Lighting
Kinoplo, red head, blonde
-
Oke
4
Lensa
Optional (Fix)
1
Oke
5
Costume/wardrob
-
-
Optionable
6
Tripot
Tanaka
2
Oke
7
Charger
Sony
2
Oke

SHOOTING SCHEDULE

Production Company    : BSI    (Sinopsis Production)

Produser                          : Budhi Tri Atmojo

Director                             : Donny Andika Kurniadi

Camera                              : Riezky Adrian

Project Title                       : Jakarta Buta Jakarta

Durasi                                 : 24 (menit)

No
Hari dan Tanggal
Waktu Pelaksanaan
Kegiatan
1
Jum’at, 15 June 2012
06.00 – 8.00
Preparation tools
2
8.00 – 12.10
Shooting Indoor
3
12. 10 – 13.00
Break Lunch
4
13.00 – 16.30
Shooting Indoor
5
16.30 – 17.00
Coffee break
6
17.00 – 21.00
Shooting Indoor
7
21.00 – 21.15
Review
8
21.15 – 22.15
Clear up tools
9
Sabtu, 16 june 2012
07.00 – 08.00
Checking equipment
10
08.00 – 08.45
Go to location
11
08.45 – 09.45
Preparation tools
12
09.45 – 13.45
Next shooting outdoor
13
13.45 – 14.00
Break lunch
14
14.00 – 17.30
Next Shooting outdoor
15
17.30 – 17.45
Clear up tools
16
17.45 – 18.15
Review
17
Minggu, 17 June 2012
All days
Review – minus take
18
Senin, 18 June 2012
7 days
Editing
1.3.1        Lembar Kerja Sutradara
 
Proses kerja sutradara meliputi proses kerja saat pra  produksi, produksi dan paska produksi. Seorang sutradara haruslah memahami betul pekerjaannya. Dengan begitu ia akan mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawabnya.
Sutradara Televisi adalah seseorang yang menyutradarai Program Acara Televisi yang terlibat dalam proses kreatif dari Pra hingga Paskaproduksi, baik untuk Drama maupun Nondrama dengan lokasi di studio (In-Door) maupun alam (Out-Door), dan menggunakan sistem produksi Single atau Multi Kamera.
 
2.3.2.1 Pra Produksi
 
1. Memikirkan ide-ide kreatif yang berasal dari ide
program sutradara.
2.  Mengembangkan ide kreatif tersebut dengan penulis naskah.
3.  Survey lokasi akan di ambil dalam proses produksi
4. Casting character.
 
2.3.2.2 Produksi
 
1. Mengimplementasikan sebuah ide dan naskah kedalam bentuk visual.
 
2. Mendirect talent dengan karakter yang di tugaskan hingga terjadi kekuatan dalam cerita.
 
3. Bekerja sama dengan kameraman, lighting person dan audioman dalam pengambilan gambar, audio dan pencahayaan yang di perlukan.
 
2.3.2.3 Pasca Produksi
 
1. Me-review hasil semua pengambilan gambar dengan editing, dan berdiskusi untuk hasil visualisasi.
 
2. Memberi arahan kepada editor dalam penyuntingan gambar yang baik dalam proses produksi.
 
3. Adjustable audio baik dalam segi level dan memberikan sentuhan sound effect  untuk hasil yang sesuai dengan program yang di buat.
 
1.3.2        Lembar Kerja Penulis Naskah
 
Naskah adalah blue print sebuah film, dimana penlis naskah harus melakukan riset ataupun survey suatu cerita agar cerita yang akan di angkat sesuai dengan keasliannya. Di antara tugasnya penulis naskah berperan dalam tiga aspek produksi yaitu pra-produksi, produksi dan pasca produksi.
 
2.3.3.1 Pra Produksi
 
1.  Riset dan survey mengenai cerita yang akan di tulis.
 
2. Melakukan brain-storming naskah dengan produser dan sutradara.
 
3. Melakukan revisi naskah sesuai dengan hasil brain-storming.
 
2.3.3.2 Produksi
 
1. Bekerja sama dengan sutradara dalam pengimplementasian dari sebuah naskah.
 
2. Mendistribusikan naskah kepada pemain dan kru yang membutuhkan.
 
2.3.3.3 Pasca Produksi
 
1. berdiskusi dengan editing dan sutradara dalam proses penyuntingan gambar.
 
2.3.4 Lembar Kerja Kameraman
 
Istilah Kameraman disebut juga sebagai D.O.P atau Director of Photography adalah seorang seniman yang melukis dengan cahaya. Setiap Kameraman harus bisa dan familiar dengan komposisi dan semua aspek teknik pengendalian kamera dan biasanya dipanggil untuk menyelesaikan permasalahan teknis yang muncul selama perekaman film. (http://alamsyah029.blogspot.com/2011/08/tentang-kameramen-i.html).
Seorang kameraman juga mempunyai tugas 3 proses dalam pembuatan film, di antaranya Pra Produksi, Produksi, dan Pasca Produksi. Dari ke tiga tugas tersebut harus di lakukan sesuai dengan description yang dia pegang.
 
2.3.4.1 Pra Produksi
 
1. Mempelajari semua naskah yang sudah di setujui oleh produser.
 
2. Mengimplementasikan naskah ke dalam sebuah bentuk dan gerak dan tatak letak kamera melalui floor plan kamera.
 
3. Menguasai macam-macam segi kamera agar sesuai dengan kwalitas gambar yang akan di pakai untuk proses produksi.
 
4. Berdiskusi tentang ilustrasi yang akan di ambil dalam segi floor plan dengan sang sutradara.
 
2.3.4.2 Produksi
 
1. Mengoperasikan kamera untuk Sooting live atau taping program, baik di dalam maupun di luar studio.
 
2. Memberikan saran ke Director untuk pengambilan gambar terbaik.
 
3. Bertanggung awab untuk pemeliharaan kamera agar tetap siap operasi.
 
4. Bertanggung jawab terhadap kualitas gambar, komposisi dan lensa.
 
5. Selalu menggunakan istilah teknik dalam operasional Produksi.
 
6. Bekerjasama dengan baik bersama semua crew produksi.
 
7. Mengikuti instruksi director/pengarah acara untuk memperoleh gambar sesuai script.
 
2.3.4.2 Pasca Produksi
 
1. Melakukan pengepakan kamera set untuk teransportasi bila akan melakukan shooting di luar kota/negeri.
 
2. Bertanggung awab untuk pemeliharaan kamera agar tetap siap operasi.
 
3. Memberikan semua hasil yang di catat saat produksi kepada editor.
 
(http://musa666.wordpress.com/2010/08/26/cameramen/)
(http://dikiumbara.wordpress.com/2008/07/27/produksi-televisi-part2/)
 
2.3.5        Lembar Kerja Tata Artistik
 
artistic adalah departemen yang bertugas memberikan ilustrasi visual ruangan dan waktu, dipimpin seorang Art Director, seorang designer produksi memiliki tugas utama, membantu sutradara untuk menentukan konsep film secara keseluruhan, baik aspek visual, suasana, konsep warna, sound dan segala sesuatu hasil-hasil dari film tersebut. Untuk menjalankan profesinya penata artistic membutuhkan kejelian dan ketepatan untuk menerjemahkan ide kreatif sutradara sejak dalam perancangan film.
 
Seorang tata artistic juga mempunyai tugas mulai dari pra produksi, produksi hingga pasca produksi.
 
2.3.5.1  Pra Produksi
  1. Rapat Produksi.
  2. Membaca naskah.
  3. Pengenalan lokasi shooting
  4. Mencari referensi
  5. Menggambar Floor Plan
  6. Menyusun breakdown artistic
  7. Menyusun peralatan
  8. Menyusun anggaran
  9. Hunting property
  10. Data ulang property
2.3.5.2 Produksi
 
1. Merealisasikan dari floor plan yang telah di buat.
 
2. Membantu sutradara dan kameraman dalam segi artistik jika ada sedikit perubahan.
 
3. Membantuk kebutuhan para talent yang sesuai dengan karakter, seperti costume dll.
 
2.3.5.3 Pasca Produksi
 
1. Menyusun property yang telah di pakai.
 
2. Merawat semua set / property yang sudah di duganakan agar dapat di fungsikan kembali jika ada property yang sama.
 
(http://b4tlle.wordpress.com/2010/11/20/tata-artistik/)
 
2.3.6        Lembar Kerja Audioman
 
Audioman biasa juga di sebut sebagai audio person, tugasnya dapat mengoperasikan peralatan audio dan membalance ouput audio dan merecord audio hingga mendapati kualitas suara yang baik, dalam dunia broadcast tugas seorang audioman / audio person tidak jauh beda dengan soundman / soundengineer yang biasa sering dikenal di dunia audio khususnya di acara2 konser2.
 
Tugas Audio Person dalam dunia broadcast maupun per film-an juga ada 3 proses di antaranya Pra-Produksi, Produksi dan Pasca produski.
 
2.3.6.1  Pasca Produksi
  1. Menentukan  equipment audio yang akan di pakai baik itu microphone hingga system outputnya (stereo atau mono)
  2. Mencari referensi mengenai soundeffect  / backsound music, atau membuat ilustrasi music agar sesuai dengan film yang akan di garap.
  3. Memeriksa semua kebutuhan audio agar smua kebutuhan berjalan dengan baik.
2.3.6.2  Produksi
  1. Bertanggung jawab atas semua equipment audio yang di pakai.
  2. Me-record input yang masuk, dan memback up hasil yang sudah di record .
2.3.6.3  Pasca Produksi
  1. Bekerja sama dengan editor untuk hasil audio yang sudah di record saat produksi.
  2. Memberikan hasil refensi audio untuk di pakai backsound / soundeffect di film yang telah di record.
  3. Memeriksa semua equipment audio yang telah di pakai untuk produksi.
  4. Me-review hasil audio dengan sang produser, juga editing setelah proses mixing dari editing visual ke audio.
(http://articleaudio.wordpress.com/, http://agustuslima.wordpress.com/tag/audioman/)
 
2.3.7        Lembar Kerja Lighting / Penata Cahaya
 
Tugas utama penata cahaya adalah merencanakan sekaligus memainkan pencahayaan pada saat pementasan / shooting berjalan sehingga pencahayaan mendukung penciptaan latar suasana panggung / hasil visual. Jelas bahwa penata caha perlu berkoordinasi dengan piñata cameramen maupun artistic. Seorang penata cahaya harus memiliki pengetahuan memadai dalam hal mixer cahaya.
 
Tugasnya pun mempunyai tahapan-tahapan dalam pembuatan film diantaranya pra-produksi, produksi, pasca produksi.
 
(http://suyoto.wordpress.com/pementasan/)
 
2.3.7.1 Pra Produksi
 
1. Mempersiapkan semua kebutuhan dalam segi pencahayaan, baik dari sepesifikasi lighting hingga filter yang akan di pakai.
 
2. Memeriksa semua alat yang akan di pakai berkordinasi dengan crew.
 
2.3.7.2 Produksi
 
1. Memperhatikan perbandingan Hi light (bagian ruang yang paling terang) dan shade (bagian yang tergelap) agar tidak terlalu tinggi atau biasa disebut hight contrast.
 
2. Perlu memperhatikan karakteristik tata cahaya dalam kaitannya dengan kamera yang digunakan.
 
3. Menjaga semua peralatan tata cahaya yang di gunakan.
 
4. Bekerja sama dengan sang kameraman juga sutradara dalam penempatan lighting dan segi penataan cahaya agar sesuai dengan scence dan shoot yang di ambil.
 
2.3.7.2 Pasca Produksi
 
1. Merawat semua equipment yang telah di pakai, agar dapat beroperasi dan di gunakan untuk pembuatan / tahap selanjutan.
 
2. Me-review hasil tata cahaya yang telah record saat produksi oleh editor.
 
3. Presentasi dan Evaluasi.
 
(http://www.perpuskita.com/tahap-membuat-film/141/)
 
BAB III
PENUTUP
 
3.1       Kesimpulan
 
3.1.1    Pra Produksi
 
            Membuat suatu program drama televisi yang berkualitas, baik dari segi pemilihan tema sampai teknis pengambilan gambar untuk disesuaikan dengan standar broadcast adalah bukan hal yang mudah. Dan bagaimana program tersebut dapat diterima oleh masyarakat dan bersaing dengan tayangan lain pada jam yang sama dengan stasiun televisi lainnya.
 
            Pada tahap pra produksi ini, penulis menyimpulkan bahwa tahap pra produksi merupakan tahap penting sebelum menuju tahap produksi. Karena di tahap ini penulis mempersiapkan segala sesuatunya untuk tahap produksi yaitu shooting agar semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.
 
3.1.2    Produksi
 
            Tidak berbeda dengan mekanisme kerja di dalam sebuah produksi drama televisi yang membutuhkan kekompakan satu sama lain, persamaan persepsi, saling pengertian dan kolaboratif yang selaras. Jika didalam proses kerja terjadi suatu permasalahan penulis berusaha mendiskusikan secara bersama dengan crew yang lain, agar mendapatkan solusi yang terbaik dan produksi pun tetap berjalan.
 
3.1.3    Paska Produksi
 
            Tahap akhir yang dilakukan adalah paska produksi. Dimana penulis menyimpulkan bahwa tahap paska produksi merupakan tahap final dalam penciptaan karya. Dimana di tahap ini, proses editing merupakan tahap penyelesaian akhir dala sebuah proses produksi. Ditahap ini, penulis sebagai editor menuangkan semua kreatifitas yang dikuasai walaupun terbatas, dan akhirnya pun proses editing berjalan dengan lancar dan selesai tepat pada waktunya.  
                    
3.2       Saran
 
            Saran dari penulis untuk pembaca adalah pada saat pemilihan program untuk Tugas Akhir, adakalanya dipikirkan secara matang dan disesuaikan dengan kemampuan finansial yang ada. Ketika dateline dekat, harus tetap tenang dan tetap dijalankan sesuai planning.
 
JOB DESCRIPTION
 
PRODUSER
DIRECTOR
SCRIPT WRITER
KAMERAWAN
EDITOR
ART & PROPERTY
Konsep program
Konsep director
Penulis naskah
Konsep kamera
Konsep editing
Mempelajari naskah
Working scedule
Konsep & casting list
Konsep penulisan naskah
Kamera report
Laporan editing
Membreakdown naskah berdasarkan kebutuhan
Breakdown budgeting
Director  treatment
Synopsis
Blocking kamera
Logging picture
Menyiapkan property pada saat shooting.
Shoot sched
Shoot script
Karakteristik tokoh
Spesifikasi kamera
Proses program ID
Daily report
Camera card
Scenario
Spesifikasi alat editing
Equipment
Script breakdown sheet
Treatment/scene plot
Surat izin kerja
Lokasi dan foto lokasi
 
(Riezky Adrian, 28/2/2013).

Jobdesk For Script (Drama)

Posted: February 28, 2013 in Let's Make A Movie
I.1.  Ide Pokok : “Dikala Hidayah untuk seseorang telah Tuhan hadirkan kepadanya, Maka tak seorangpun mampu menghalangi meski dengan cara yang tak terduga sekalipun yaitu KETIKA MATA BICARA dapat merubah hati yang telah lama gelap jadi lebih terang dan menuntun kejalan HAKIKI”.
 
I.2.  Tema : Tentang kehidupan seorang remaja bernama Nasir yang mengalami masa transisi dalam emosi jiwanya berbalut drama percintaan, Kemudian mencari jati dirinya kembali yang telah lama hilang dalam lingkungan keluarga dan sosialnya.
 
I.3.  Pengungkapan karakter / Penjabaran karakter tokoh :
 
 Irsan – Nasir : 19 tahun, Adalah seorang pemuda keturunan Arab – Betawi yang tinggal di wilayah condet  Jakarta timur, Ayahnya seorang arab keturunan  betawi dan ibunya seorang betawi tulen dan Nasir juga mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Fatimah, latar belakang pendidikan Nasir adalah tamatan aliyah . Setelah tamat dari aliyah Nasir mencoba mencari pekerjaan, namun entah kenapa Nasir sulit sekali untuk mendapatkan pekerjaan yang di inginkannya. Dari sinilah sifat Nasir berubah derastis dari seorang yang rajin ibadah dan menurut kepada orang tuanya menjadi seorang yang pemalas, pembohong dan sering kali membangkang dari nasihat kedua orang tuanya.
 
Sulis – Fatimah : 16 tahun, Adalah adik perempuan nasir satu – satunya. Sifat Fatimah rajin dan penurut dengan kedua orang tuanya dan ia masih bersekolah di tingkat aliyah.
 
Husein – Abah : 45 tahun, Adalah ayah dari Nasir dan Fatimah pendidikannya yang hanya tamatan SD memaksa ia bekerja berwiraswasta di bidang Material bangunan. Abah memiliki sifat pemarah tapi terkadang lucu dan dapat menghibur para anggota keluarganya akan tetapi dibaliksemuanya ia seorang yang penyayang.
 
Lira – Ummi : 38 tahun, Adalah ibu dari Nasir dan Fatimah, pendidikannya yang hanya tamatan SD Memaksa Ummi bekerja sebagai ibu rumah tangga Ummi memiliki sifat yang bijaksana di mata anak – anaknya tapi terkadan keras juga demi kebaikan anak – anaknya.
 
Nova – Sarah : 18 tahun, Seorang gadis yang berkuliah disebuah perguruan tinggi swasta dan bertempat tinggal di sebuah rumah kos yang bersebelahan tak jauh dengan tempat tinggal nasir. Karakter sarah yang mudah senyum, sopan dan pandai membuat nasir jatuh cinta padanya dan dari karakter sarah ini.  Sifat Nasir dapat berubah seperti dahulu orang – orang di sekelilingnya pernah kenal.
 
 I.4. Basic Story : Nasir yang mengalami masa transisi dalam emosi jiwanya dan percintaan, yang sebelumnya ia anak yang rajin beribadah dan penurut kepada orang tuanya menjadi seseorang yang pemalas, pembohong dan sering membangkang dari nasehat kedua orang tuanya, karena suatu hal yang belum dapat ia selesaikan, yaitu sulit mencari pekerjaan yang ia inginkan selama ini. Dari sinilah ia mengalami berbagai masalah, kemudian akhirnya ia bertemu dengan seorang gadis yang bernama sarah yang turut andil dalam kembalinya jati diri dan sifat Nasir yang seperti dulu.
 
 
KETIKA MATA BICARA
I.5. Sinopsis :
 
Nasir, 19 tahun, lulusan Aliyah 2 tahun silam, Nasir adalah seorang pemuda keturunan Arab – Betawi yang tinggal di wilayah Kampung Melayu, Jakarta – Timur. Nasir tinggal di wilayah kampung melayu bersama Abah 45 tahun seorang wiraswasta dibidang material, ummi 38 tahun seorang ibu rumah tangga dan satu orang adik perempuanya sejak turun menurun dari buyutnya masih hidup. Ayah Nasir seorang Arab keturunan betawi dan ibunya seorang Betawi tulen. Dalam kehidupan Nasir ini meceritakan apa makna hidup yang dialami Nasir sebelum dan sesudah ia lulus dari Aliyah. Dan dalam cerita ini, Nasir juga mengalami masa transisi emosi dan percintaan dengan wanita yang bernama Sarah 18 tahun seorang mahasiswi, Anak kos yang tinggal tak jauh bersebelahan dengan tempat tinggal Nasir, yang turut andil dalam mencari jati dirinya kembali. Nasir mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Fatimah 16 tahun yang bertolak belakang karakternya dengan Nasir.
 
Di  kehidupan sehari – hari keluarga Nasir, Nasir masih menganut adat dan istiadat dari leluhur mereka yang masih kental dari segi sosial, agama dan bahasa yang di gunakannya juga kental dengan nuansa Humor dengan bahasa Arab dan Betawi.
 
Keseharian Nasir sebelum lulus dari aliyah, ia adalah seorang anak yang taat beribadah, rajin, sopan dan menurut dengan nasehat kedua orang tuanya. Sangat kontras sekali setelah ia lulus dari aliyah ia menjadi seorang pemalas, pembohong, pemarah dan sering kali membangkang saat kedua orang tuanya memberi ia nasehat. Hal itu disebabkan oleh pergaulan dan suatu keinginan ia yang belum tercapai selama ini yaitu mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginan hatinya.
 
Hari demi hari masalah yang di alami Nasir makin bertambah dan perlawan batin pun ada pada puncaknya. Disaat seperti inilah Nasir mulai mendapatkan jati dirinya kembali setelah berbagai masalah silih berganti menghampiri. Dan Nasir pun memutuskan untuk merubah semua kebiasan buruknya selama ini seperti sedia kala, agar masalah yang telah di alaminya tidak lagi menghampiri. “Dikala Hidayah untuk seseorang telah Tuhan hadirkan kepadanya, Maka tak seorangpun mampu menghalangi meski dengan cara yang tak terduga sekalipun yaitu KETIKA MATA BICARA dapat merubah hati yang telah lama gelap jadi lebih terang dan menuntun kejalan HAKIKI”.
 
I.6. Treatment dan I.7 Skenario
 
FADE IN :
EXT/INT. TERAS RUMAH – PAGI (Scene 1)
 
Pagi hari di sebuah pemukiman warga keturunan Arab – Betawi di wilayah Kampung Melayu, Jakarta – Timur. Setelah ambil wudhu. Nasir bergegas sholat subuh..Setelahnya sholat subuh nasir pulang kerumah dan duduk diteras rumah sambil menikmati segelas kopi serta nikmatnya udara pagi yang segar.
NASIR
Masya allah nikmat bener dah neh pagi..habis sembayang subuh ..
Panggilan dari arah dapur.
 
FATIMAH
Aziiiiz..Hal anta ba’da future..?(Bang,udah sarapan belum ..?)
 
NASIR
La bikkkkk..ana la futuro fi yauma shobah..ayyatu ammalu ana gahwa zam jabier (kopi jahe)..!(Iyaaaa,saya tidak sarapan kalo pagi,bisa tolong buatkan kopi jahe’y ..!)
 
FATIMAH
Aiwa, ya aziiiz..al’an amali anta gahwa zam jabier..!
(Iya bang,sekarang sedang saya buatkan kopi jahenya ..!)
 
Tiba – tiba ummi keluar dari arah dalam rumah
 
UMMI
Siiirrrr..Tumben lu bangun subuh..?
 
NASIR
Iya neh mi..Tadi malem ane mimpi, disuruh sembahyang subuh tiep hari ame Habib Salim.. kalo rejeki mao lancar, katenye..!
 
UMMIY
Kalo..gak mimpiin Habib Salim..Lu gak sembahyang subuh dong…
 
  NASIR
Gak gitu juga mi..ane sekarang mao nyoba berobah dikit-dikit..kali aje rejeki ane gak seret dan bisa cepet dapat kerjaan yang nasir kepengenin ..
 
UMMI
Nahhh..Bagus dah ummiy demen kalo begitu caranye..gak percuma ummiy berdoa’a sama Allah supaya lu sadar…
 
Ummi kembali masuk ke arah dalam kamar.
 
CUT TO :
 
EXT/INT. TERAS RUMAH – PAGI (Scene 2)
 
Ketika nasir sedang menikmati secangkir kopi buatan fatimah diteras rumahnya, tiba – tiba nasir melihat seorang gadis yang baru ia lihat melintas di depan rumahnya, kemudian nasir pun menyapa dan berkenalan dengan gadis itu yang bernama sarah.
 
  FATIMAH
Neh..bang kopi jahenye saye dah bikinin..
 
NASIR
(Senyum)
Masya Allah, Sukran jazilan ya ukhti al jamilllll…Hehehehe.. (Terima kasih banyak wahai adiku yang cantik .. Hehehehe)
 
FATIMAH
Iyeee, Lu puji deh gue sekarang..kalo ada maonye..!!!ya udah gue  mao masak dulu neh bang..!!!
 
NASIR
Masak nyang ajiebbbb ye…!!!
 
FATIMAH
Iye, Bawel..
 
Tak lama berselang Kemudian, Sarah pun melintas di depan teras rumah nasir penuh pesona.
 
SARAH
(Senyum)
Sambil Menengok ke arah nasir
 
NASIR
Assallamualaikum..
 
SARAH
Wa’alaikum sallam
 
NASIR
Ehmmm..inte orang baru ye, tinggal dimane dek..?
 
SARAH
Ehmmm, gak jauh kok..di kosan sebelah sana bang..
 
NASIR
Yaaaa..ampunnn, kenapa ane baru engeh ye..ngomong – ngomong namanye sapa dek..?
SARAH
(Senyum)
 Sarah..nama abang siape..?
 
NASIR
(Senyum tak berkedip)
 Nasir..
 
SARAH
Ehmm..bang nasir, saye mau ke kosan dulu, mao siap – siap berangkat kuliah neh bang.. Assallamualaikum..
 
NASIR
Wa’alaikum sallam..yaudah hati – hati ye dek..
 
SARAH
(Senyum)
Iya bang..
 
Sarah Sambil lambaikan tangan ke arah nasir.
 
DISSOLVE TO :
 
EXT/INT. TERAS RUMAH – PAGI (Scene 3)
 
Ummi keluar rumah karena hendak pergi ke majelis ta’lim, sebelumnya ummi menitip salam kepada nasir untuk abah, bahwa ummi pergi ke majlis ta’lim. setelah bangunnya abah, abah merasa heran dengan perilaku nasir hari ini sangat berbeda dengan hari – hari sebelumya, nasir bangun lebih pagi dari abah.
 
UMMI
Sir..Ummiy mao ta’lim dulu ye..bilangin abah lu kalo diye dah bangun…!!!
 
Ummi keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi hendak ke majelis ta’lim.
NASIR
Iye mi..
 
 Tiba – tiba abah keluar dari kamar menuju teras rumah dan ngobrol bersama nasir dengan keadan wajah baru bangun tidur.
 
ABAH
Tumben ente bangun pagi sir..Biasenye tenge hari bolong ente baru bangun, ade angin ape neh ..Ape mao kiamat kali yeee hahahaha..!!!
 
NASIR
Abah ame ummiy same aje ..Ane diledek mulu dari tadi pagi…
 
ABAH
Abah peratiin..Ente megangin barang terus..?
 
NASIR
(CONT’D)
(Gelisah/Flashback)
 
Ehhhmmmm…Tadi malem waktu mao keluar kamar mandi..kena gagang pintu bah..Si Fatimah tu kerjaannye..die kire gak ade orang kali..maen dobrak aje tu pintu kamar mandi…ya sallammmmm…
 
Kejadian tadi malam. (CONT’D/Flashback)
 
EXT.KAMAR NASIR – SUBUH
Nasir terlihat gelisah karena ingin ke toilet.
 
 
NASIR
(Gelisah)
Aduh .. gak tahan neh ..
 
Sambil bergegas menuju toilet.
 
EXT.KAMAR FATIMAH – SUBUH
Tak lama kemudian fatimah juga menuju toilet yang kebetulan nasir masih didalamnya lalu terjadilah kecelakaan kecil yang menyebabkan nasir cedera ringan.
FATIMAH
Aduh .. gak tahannnn ..
Sambil mendobrak pintu kamar mandi yang didalamnya masih ada nasir dan nasirpun membuka pintu kamar mandi lalu terjadilah insiden tersebut.
 
NASIR
Masya Allahhhhh .. woy punya mate gak loh,maen dobrak aje ..
 
                                                                     FATIMAH
                                               Maaf bang, imah buru – buru ..
 
EXT.KAMAR SEMBAHYANG – SUBUH
Nasir nampak sedang sholat subuh selepas mengambil air whudu.
 
CUT TO :
 
EXT/INT. TERAS RUMAH – PAGI
Ummi keluar rumah karena hendak pergi ke majelis ta’lim, sebelumnya ummi menitip salam kepada nasir untuk abah, bahwa ummi pergi ke majlis ta’lim. setelah bangunnya abah, abah merasa heran dengan perilaku nasir hari ini sangat berbeda dengan hari – hari sebelumya, nasir bangun lebih pagi dari abah.
 
ABAH
Hahahaha…Coba abah liat 2x..Masya Allahhhhhh… Apaannnn tuhhhhh..Abah kira bangke tikus Sirrr..Hahahahahahaha…!!!
 
SFX : SUARA KONYOL
 
NASIR
Bah..udah bah jangan kenceng – kenceng ketawenye tar tetangga pade tau semua..Nasir punya begini kan..Turunan dari abah juga ..Hahahahaha..
 
ABAH
(Marah)
Dalil Adabbbbb (Kurang ajar)..Gue lu bawa-bawa..Ooohhhh..jadi lu bagun pagi.Gara – gara kene gagang pintu tadi malem…Ade lu kesakitan yeee..Ampe lu gak bisa tidur lagi. Mati rabit..Gw kira udeh berobah lu..Hahahahaha..
 
Sambil menjitak kepala nasir dan setelahnya bergegas mandi.
 
SFX : SUARA KONYOL
 
DISSOLVE TO :
 
INT. RUANG TAMU – PAGI (Scene 4)
Setelah mandi Abah bergegas berangkat ke toko material miliknya dan Fatimah juga hendak pergi ke sekolahnya. Namun disaat mereka pergi, abah mengunci pintu rumah, tanpa disadarinya bahwa nasir masih ada di dalam, karena sedang mandi. Nasir pun terkurung di dalam rumah, tanpa kehabisan akal nasir memanjat tembok belakang rumah untuk keluar dan setelahnya pergi kewarung membeli rokok.
 
FATIMAH
Abahhhhhh..ana adzhabu ila madhrosati.. (Abah,saya pergi kesekolah dulu ..)
ABAH
Na’am..Ma’a salamah, ya waladi..(Iya,semoga selamat wahai anakku)
 
Fatimah
Assallamualaikum..
 
Fatimah cium tangan abah setelah itu pergi ke sekolah..
 
ABAH
Wa’allaikum sallam..
 
Sambil merapikan pakaiannya.
 
ABAH
Mana si nasir, tuh anak pagi – pagi dah ngalayap aje..
Sambil mengunci pintu rumah.
 
NASIR
(Monolog)
Masya allah, seger banget dah..abis mandi..ngomong – ngomong pada kemane neh sepi banget..?
 
Setelah keluar dari kamar ke ruang tamu dan berkata.
 
NASIR
Yahhhhhh..neh pintu di kunci lagi..gue mao lewat mana neh..pasti kerjaannye abah..
 
Sambil memegang gagang pintu dan mecoba membukanya.
 
NASIR
Gue gak keabisan akal..
 
Tiba – tiba Nasir mendapat ide, Sambil menuju ke arah tembok belakang rumah. Nasir memanjat dan akhirnya berhasil keluar sebelumnya sempat terjatuh.
 
NASIR
(Mengusut – usut pinggang)
Masya Allah,apes bener neh hari ..
 
DISSOLVE TO :
 
EXT. HALAMAN RUMAH – SIANG (Scene 5)
Nasir hendak kewarung namun tanpa sengaja bertemu sarah di perjalanan, kemudian nasir menanyakan nomer Hand Phonenya sarah. Dari sinilah hubungan mereka semakin akrab dan sering nya mereka berkomunikasi membuat mereka saling menyukai.
 
NASIR
Akhirnnye..bebasssssssss..
 
Berjalan menuju warung tak sengaja bertemu dengan sarah.
 
NASIR
Ehhhhh..sarah, mao kemana dek..
 
SARAH
Iya bang, sarah mao ke kampus neh..
 
NASIR
Owhhhh..sarah kuliah dimana..?
 
SARAH
  Di BSI..
 
NASIR
Wowwwww..kerennnnn..
 
SARAH
Bang nasir gak kuliah..?
 
NASIR
Ehmmm..pengennye seh..yah tapi, lagi pengen bebas dulu neh..
 
SARAH
Kok gitu..tar nyesel loh..
 
NASIR
Yah mao gimana.. lagi gak semangat..Ehmmm..ngomong –ngomong Nomer HP nya sarah berapa neh..?
 
SARAH
Buat apa bang..?
 
NASIR
Ya..mungkin aja abang berubah pikiran, jadi mao kuliah..kan bisa tanya – tanya soal BSI sama sarah..
 
Sambil megang HP.
SARAH
Owhhhh..gituuu, yaudah catet ya..
 
NASIR
OK..
Saling tukar Nomer HP
 
SARAH
Udah dulu ya bang..sarah mau kuliah dulu neh.. Assallamualaikum..
 
NASIR
Wa’allaikum sallam..Hati – hati dek..
 
SARAH
(Senyum)
Menengok ke arah nasir.
 
NASIR
Monolog
(Terpesona)
Hajal imroa’tul Kamil .. Demi sarah, ane harus berubah kayak dulu lagi buat dapetin hatinye..Intadzir lahdzoh ya habibah .. !!!  (Sungguh wanita yang sempurna).. (Tunggu saatnya sayangku )..!!!
 
DISSOLVE TO :
 
INT. TERAS RUMAH – SIANG (Scene 6)
Setelah pulang dari warung nasir kembali kerumahnya, duduk diteras rumah sambil menghisap rokok dan meminum kopi sisa pagi tadi, ketika itu ummi pulang dari majelis ta’lim duduk dan mengobrol dengan nasir.
 
NASIR
(Monolog)
No HP Sarah udah di tangan..sekarang mao ngapain lagi ye..?
 
NASIR
(Monolog)
Sambil melihat ke arah secangkir kopi dimeja.
Nah..masing ade sisa kopi neh..rejeki..!!!
 
Tiba – tiba ummi datang sambil mengucap salam.
 
                                                                          UMMI
                                                            Assallamualaikum..
 
NASIR
  Wa’allaikum sallam..
 
Nasir jawab salam dan cium tangan ummi kemudian umi duduk diteras ruamh bersama nasir untuk menasehatinya.
 
                                                                          UMMI
                                                      (Nada Suara Lembut)
 
Sir..ummi mao ngomong sama lu..tadi ummi denger ceramah Habieb Salim..katanye..kalo kite mao berkah hidup dan jauh dari sial..sholat subuh jangan di tinggal dan nyang terpenting jangan ngelawan same orang tua..nah lu sekarang kenape beda banget same elu nyang dulu..penyebabnye apa neh..?
 
NASIR
Nasir pengen jadi penyiar radio, mi..
 
                                                                        UMMI
                                                                       (Kaget)
 
Penyiarrrrrrrr radiooo???..lu kuliah aja kagak..gimane mo jadi penyiar..emang lu dah pinter..?
 
NASIR
Nah itu die mi..ummi sama abah ada rejeki gak buat kuliahin nasir..?
 
UMMI
Lu serius mao kuliah..?Sir..namanya buat anak ape seh nyang orang tua gak sanggupin buat ke bae’an anaknye..Cuman ummi masing bingung neh..kok lu tiba – tiba berobah ..ummi heran juga..emang sebenernye ada pa’an.?
 
NASIR
Nasir pengen jadi orang sukses biar bisa dapetin sarah..anak kos yang masih tetanggaan deket rumah kite..
 
UMMI
Owhhhh..entu penyebabnye, yeee.. kaga ape – ape juga seh..kalo lu bejodo kan ummi tinggal ngawinin lu entar..Hehehe.
 
NASIR
(Sambil Menadahkan Tangan)
 Aminnn Ya Allah ..
 
 UMMI
Ngomong – ngomong mana tu anak nyang bikin lu mao berobah, ummi penasaran..
 
NASIR
Orangnye lagi kuliah mi..belom pulang, tar sore juga lewat depan rumah kite..
 
UMMI
Masing lame dong..yaudah ummi mao ganti pakean dulu neh..
 
NASIR
Kuncinye di bawa sama abah tadi..
 
UMMI
Pantesan lu di luar aje dari tadi..Tenang aje ummi punya kunci serepnye kok..
 
Setelah pintu di buka ummi masuk berganti pakaian.
 
DISSOLVE TO :
 
EXT/INT. TERAS RUMAH – SIANG (Scene 7)
Setelah mengobrol dengan ummi nasir menelepon sarah untuk bertemu, setelah sarah pulang dari kuliahnya disebuah taman. Namun ketika mereka berdialog menggunakan bahasa arab..warga yang melintas sempat berhenti dan megucap kata AMIN beberapa kali..karena warga tersebut mengira nasir sedang mengucap doa.
 
NASIR
Halo.. Assallamualaikum..sarah..?
 
SARAH
Wa’allaikumsalam bang.. Madza ta’mal..?
 
NASIR
Al’an Fush’a (santai)..Ehmmmm..kok sarah bisa bahasa arab..belajar dimana..?
SARAH
Dulu kan sarah pernah di pesantren..jadi bisa..pake bahasa arab aje ye..yaaaa, sekalian belajar lagi biar gak lupa..Hehehe..
 
                                                                         NASIR
                                                                     Boleh – boleh..
 
                                                                        SARAH
Ma kana ahmiyah ya nasir..? (ada kepentingan apa wahai nasir ..)
 
                                                                        NASIR
Tahasholla nahnu shodaf, ba’da noer..kana ayya bi kallamah..(bisa kita bertemu nati sore, ada yang mau saya bicarakan)
 
SARAH
Yakin..(tentu)
 
Tiba – tiba dua orang warga berhenti di teras rumah nasir..
 
WARGA I DAN WARGA II
AMINNNNNNNNNN 3X…
 
NASIR
Woy.. balid..madza ta’mallukum..? (woy..orang – orang bodoh sedang apa kalian..)
 
NASIR
Woy..lu pergi kagak..gue siram neh pake kopi..
 
WARGA I DAN WARGA II
Iye bang..iye bang..Huuuuu..kite aminin doa’nye malah marah tu orang.. aneh ye..
Mereka berdua kembali berjalan sambil menggumam.
 
SARAH
Ada apa’an bang..kok rame bener
 
NASIR
Ada warga denger kite ngomong pake bahasa arab pada amin..
 
SARAH
Hahahahahahaha..
 
NASIR
Yaudah, sampe ketemu sore ya.. Assallamualaikum..
 
SARAH
Wa’allaikumsalam..
 
DISSOLVE TO :
 
INT. TERAS RUMAH – SORE (Scene 8)
Nasir berpamitan kepada ummi yang sedang membaca karena hendak pergi ke sebuah taman.
 
NASIR
Miiii..Nasir ketaman dulu ye..
 
UMMI
Iye..Hati – hati sir..
 
DISSOLVE TO :
 
INT. HALAMAN RUMAH – SORE (Scene 9)
Kemudian bertemu fatimah yang baru pulang sekolah serta abah yang baru pulang dari toko materialnnya dan merekapun saling sapa.
 
FATIMAH
Mao kemane bang, wangi bener..
 
NASIR
Mao tau aje anak kecil..
 
FATIMAH
Huuuuuuu..galak bener..
 
Fatimah Sambil berjalan masuk ke arah dan tak lama kemudian barulah abah tiba dari toko materialnya.
 
ABAH
Tumben lu rapi, biasanye masih dekil gini hari.. mau kemana lu .. Hehehe ..
Nasir sambil mencium tangan abahnya.
 
NASIR
(Nada Suara Lembut)
Nasir mau refresing dulu bah cari inspirasi diluar ..
 
ABAH
(Senyum)
Nah gitu dong,ketemu orang tua cium tangan kalo mau kemane – mane ..
 
NASIR
Iya bah, nasir pamit dulu ye .. assallamu’alaikum
 
 ABAH
Wa’alaikum salam ya waladi ..(selamat untukmu wahai anakku)
 
ABAH
(Dalam hati dan mengadahkan kepala)
Tu anak kayaknya dah berubah, gak biasa – biasanya dia pegi pamitan ama cium tangan .. Ya Allah berilah anak hamba hidayah dan keberkahan dalam hidupnya.
 
Kemudian abah masuk kedalam rumah.
 
INT.JALAN RAYA – SORE (Scene 10)
Nasir mengendarai motor menuju sebuah taman untuk bertemu sarah.
 
INT.TAMAN – SORE (Scene 11)
Setelahnya sampai di sebuah taman nasir berjalan menuju arah bangku taman dan bertemulah dengan pujaan hatinya sarah, yang sudah menunggu lebih dahulu.
 
NASIR
Dah lama nunggu dek..?
 
SARAH
(Senyum)
Baru kok..
 
NASIR
Ehmmm,gimana ya ..To the point aja deh,abang mao kuliah neh..di kampus sarah kuliah boleh gak..?
 
SARAH
Ya..boleh bang, sapa yang larang..malah enak lagi kita kan bisa bareng..!!
 
NASIR
(Mupeng)
Kitaaaaa..
 
SARAH
Iya kita bareng kuliahnya..
 
NASIR
(Setengah Melamun)
Iya..iya..iya..Besok temenin abang daftar ye..masih di buka gak pendaftarannye..
 
SARAH
Masih kok..ehmmm..tapi tiba – tiba bang nasir mau kuliah seh..bukannya abang masih mao bebas bilang nya tadi pagi..
 
NASIR
Iya emang..itu semua berubah karena sarah..sarah yang buat bang nasir pengen kaya dulu lagi..nyenengin hati orang tua dan orang di sekeling biar gak di pandang sebelah mate..
 
SARAH
Kok bisa seh bang..
 
NASIR
Gak ada yang gak mungkin, Jika Allah sudah berkehendak pasti semua urusan ada jalannya..dan jalannya itu ada pada diri sarah..
 
SARAH
Yakinnnn..
 
NASIR
Hakul yakin..Sarah mau kan nuntun abang masuk kejalan itu..?
 
SARAH
Ehmm, gmana ya ??? iyaaaa..Demi bang nasir sarah mau nuntun abang..
 
NASIR
(Senyum Sumringah)
Keduanya saling berpegangan tangan dan saling pandang.
 
*****
 (THE END)
 
Penulis : Riezky Adrian, 28/2/2013.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Library Of Broadcasting

Posted: February 25, 2013 in Let's Make A Movie

Broadcasting Media

Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan
Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan
Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yang tidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka
Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.
Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.
Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.
Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.

Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.
Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalu mengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.
Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia.
Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar.
Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi.
Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya.
Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle :
Sudut pengambilan gambar.
Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi
Audio Effect :
Efek suara
Ambience :
Suara natural dari obyek gambar
Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Background :
Latar belakang
Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.
Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.
Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.
Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.
Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.
Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.
Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.
Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.
Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.
Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.
Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.
Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya
Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek
Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara
Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan
Bumper Out :
Penanda bahwa program acara tv akan berhenti sejenak untuk iklan
Call :
Waktu yang diharapkan dari seorang individu anggota staf perusahaan, pemain, atau kru untuk berada di set. Jadwal biasanya didaftarkan pada call sheet yang menjadi tanggung jawab asisten sutradara dan manajer produksi.
Camera :
Sistem perangkat mekanik atau elektronik yang mengontrol pergerakan dari film yang belum diekspos di belakang lensa dan shutter dan yang menentukan gambar serta tingkatan cahaya yang masuk kedalam film. Mekanisme ini mungkin memiliki kontrol kecepatan.

Camera Boom :
Tempat kamera yang dapat berpindah, biasanya berukuran besar, tempat kamera dapat diproyeksikan keluar set dan atau dinaikan di atasnya.
Camera Departement :
Bertanggung jawab untuk memperoleh dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memfilmkan sebuah motion picture. Juga bertanggung jawab untuk penanganan film, pengisian film, dan berhubungan dengan laboratorium pemrosesan.
Cameraman :
– First Cameraman sering disebut sebagai Penata Fotografi (Director of Photography) atau kepala kameramen, bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera dan juga pencahayaan dalam suatu adegan. Kecuali dalam unit produksi yang kecil, Penata Fotografi tidak melakukan pengoperasian kamera selama syuting yang sesungguhnya.

- Second Cameraman sering disebut sebagai asisten kameramen atau operator kamera, bertindak sesuai instruksi dari kameramen utama dan melakukan penyesuaian pada kamera atau mengoperasikan kamera selama syuting.

- First Assistant Cameramen sering disebut Kepala Asisten untuk pada operator kamera. Seringkali bertanggung jawab untuk mengatur fokus kamera (untuk kamera film).

- Second Assistant Cameraman, menjadi asisten operator kamera.

Camera Noise :
Bunyi Kamera. panggilan dari bagian tata suara (Sound Departement) di set untuk mereangkan bahwa ia menerima bunyi dari kamera sehingga harus digunakan kamera lain, melakukan perbaikan kamera atau diperlukan penghalusan tambahan terhadap kamera dengan menggunakan barney atau selimut.

Camera Report :
Salinan yang disimpan dalam tiap magazine film tempat asisten kameramen mencatat panjang pengambilan tiap adegan, nomer adegan, dan perintah untuk mencetak atau tidak. Laporan kamera diberikan ke laboratorium proses, bagian kamera, dan bagian produksi.
“Camera Right”, “Camera Left” :
Petunjuk bagi seorang aktor/aktris untuk berputar atau bergerak. Petunjuk ini berdasarkan sudut pandang sutradara atau kamera dan dibalik sesuai dengan keadaan aktor. Ketika menghadap lensa maka bagian kanan aktor adalah bagian kiri kamera dan juga sebaliknya.
Camera Tracks :
Lintasan Kamera yang terbuat dari metal atau lembaran kayu lapis ukuran 4 x 8 yang diletakkan dilantai untuk membawa dolly atau camera boom. Lintasan digunakan untuk menjamin kehalusan gerakan kamera.
Can :
Tempat/wadah untuk film.
Canned Music :
Musik yang belum ditulis untuk film tertentu namun telah direkam dan dikatalogkan menurut gayanya dalam perpustakaan sehingga dapat dibeli dan dipergunakan.
Casting Director :
Orang yang memimpin pemilihan dan pengontrakan aktor/aktris untuk memenuhi bagian yang dibutuhkan dalam sebuah naskah.
Century Stand :
Digunakan untuk menahan berbagai jenis bendera yang diperlukan untuk mengurangi intensitas cahaya atau untuk menghalangi sejumlah cahaya tertentu. Juga digunakan untuk menahan atau mendukung ranting daun atau efek lain yang berhubungan dengan pencahayaan.

Changing Bag :
Tas kedap cahaya dengan ritsleting ganda tempat magazines film dapat diletakkan untuk memindahkan film yang telah diekspose dan mengisi ulang magazine. Juga dibuat sehingga memungkinkan asisten kamera memasukkan tangan dan lengannya tanpa membiarkan film terkena cahaya. Biasanya digunakan jauh dari studio kaerna di studio, magazine diisi ulang diruang gelap di bagian kamera.
Character Man or Woman :
Pada saat-saat tertentu seorang aktor/aktris bermain karakter, biasanya istilah ini merujuk pada aktor/aktris yang paling sesuai secara fisik untuk peran-peran selain pemain utama romantis, peran remaja atau peran sederhana.
Cinema :
Merujuk pada Motion Picture. Berasal dari kata Yunani Kinema yang berarti gambar.
Cinema Scope :
Nama dagang untuk tujuan pemrosesan fotografi dan proyeksi yang mengikutsertakan kamera dengan lensa anamorfik atau proyektor dan ayar berlekuk ekstra panjang. Memungkinkan proyeksi dari gambar yang jauh lebih besar dari ukuran biasanya. Banyak film epic dibuat dalam Cinema Scope karena pengaruh dari ukuran terhadap penonton.

Cinematographer (Sinematografer) :
Penata Fotografi. Orang yang melaksanakan aspek teknis dari pencahayaan dan fotografi adegan. Sinematografer yang kreatif juga akan membantu sutradara dalam memilih sudut, penyusunan, dan rasa dari pencahayaan dan kamera.
Cinemobile :
Nama dagang untuk unit lokasi pembuatan film yang lengkap dan dapt berpindah-pindah, membawa peralatan dan petugasnya dan memiliki banyak ukuran mulai dari van peralatan kecil sampai dengan bus besar.

Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog ketika kamera gambar dan alat rekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “bang”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe sistem penanda elektronik dipasangkan sisi kamera.

Commercial :
Iklan. Film pendek yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk menjual suatu produk.
Composite Print :
Film yang telah diedit termasuk semua gambar, suara, dan musik yang telah dicetak ke dalam sebuah film.
Contact Glass :
Alat bantu penglihatan terbuat dari kaca berwarna gelap berbentuk seperti monacle yang dipakaikan ke salah satu mata Penata Fotografi selama pencahayaan set untuk memeriksa tingkatan kontras dari pencahayaan tersebut.
Cook, Cookie :
Dapat berupa kain dengan bingkai kawat atau lembaran kayu lapis atau plastik yang diberi pola daun ranting atau bunga untukmemunculkan bayangan pada permukaan datar. kadang buram atau tembus cahaya seperi sebuah scrim. berasal dari bahasa Yunani kukaloris yang berarti memecah cahaya.
Copter Mount :
Copter kamera untuk penggunaan dalam pengambilan gambar aerial helikopter yang berfungsi menjaga kamera dari vibrasi helikopter. Nama dagangnya adalah Tyler Mount.
Costume Designer :
Orang yang merancang dan memastikan produksi kostum secara sementara maupun permanen untuk sebuah film.

Coverage :
Keseluruhan koleksi hasil pengambilan gambar individual, sudut, dan set yang terdiri dari segala kebutuhan film untuk membuat sebuah cerita lengkap.
Cover Set :
Set yang digunakan untuk syuting bila adegan eksterior yang diusahakan ternyata terganggu oleh kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Cover Shot :
Bagian dari pengambilan film untuk menyediakan materi transisi dari satu bagian adegan ke bagian adegan lain dalam sebuah adegan yang sama. Bisa juga digunakan sebagai gamabr tambahan atau cadangan kalau perekaman pertama tidak berhasil. Juga disebut sebagai “insurance”.
Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.
Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara dan diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang aktor untuk memberi isyarat. Isyarat cahaya ini menghindari isyarat secara verbal yang dimunculkan oleh aktor.
Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun aktor/aktris tetap berada dalam posisinya. Sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau mengatur adegan lain yang saling bersinggungan.
Cut Back :
Mengubah gambar dalam film secara cepat dari adegan saat ini ke adegan lain yang telah dilihat sebelumnya. Pemotongan ini Dilakukan tanpa ada transisi.
Cutting on The Action :
Menggunakan sebuah tindakan besar dari seorang aktor/aktris sebagai titik untuk masuk lebih dekat atau lebih jauh dari orang tersebut.
Cutting Room :
Tempat peralatan seorang editor film berada, misalnya moviola dan lain sebagainya dan tempat film akan digabungkan sesuai cerita yang berkesinambungan. Ruang ini biasanya ada dalam sebuah studio namun dapat saja berada pada lokasi tersendiri dan terpisah dari daerah studio.
Cut to :
Secara cepat mengubah gambar dalam film dari adegan masa kini ke adegan lainnya tanpa adanya transisi.
Credit Title :
Urutan nama-nama tim produksi dan pendukung acara
Chroma Key :
Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara
gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam
prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai
kebutuhan foreground dan background
Cutting on Beat :
Teknik pemotongan gambar berdasarkan tempo
Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin
tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena
ada jeda iklan komersial
Cut :
Pemotongan gambar
Cutting :
Proses pemotongan gambar
Camera Blocking :
Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar
Clear-Com :
Sebutan bagi penggunaan headset audio yang dihubungkan dengan
Master Control
Channel :
Saluran
Crazy Shot :
Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan
Composition :
Komposisi
Continuity :
Kesinambungan
Cross Blocking :
Penempatan posisi obyek secara silang sesuai dengan kebutuhan
Crane :
Alat khusus/katrol untuk kamera dan penata kamera yang dapat
bergerak keatas dan kebawah
Clip On :
Mikrofon khusus yang dipasang pada obyek tanpa terlihat
Casting :
Proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang
akan diberikan
Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Dailies :
Hasil cetakan positif, dikirimkan setiap hari dari laboratorium berasal dari negatif film yang dipergunakan di hari sebelumnya.
Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.
Dialogue Coach or Dialogue Director :
Orang dalam set yang bertanggung jawab membantu para aktor/aktris dalam mempelajari kalimat mereka selama pembuatan film. Mungkin juga membantu pengaturan dialog saat pre-syuting.
Diffusers :
Potongan materi difusi diletakkan di depan lampu studio untuk memperhalus.

Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.
Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.
Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.
Dollying :
Pergerakan kamera selama pengambilan gambar dengan menggunakan kendaraan/alat beroda yang mengakomodasikan kamera dan operator kamera. Kadang disebut juga tracking atau trucking.
Double :
Bisa diartikan pemain tambahan yang menggantikan aktor/aktris selama pengaturan cahaya atau dapat berarti stunt yang menggantikan aktor/aktris dalam adegan berbahaya.
Dress The Set :
Perintah untuk menempatkan banyak benda (misal lampu, asbak, bunga, atau lukisan) di set untuk memunculkan realitas.
Drift :
Ketika seorang aktor/aktris hampir tidak disadari bergerak keluar dari posisinya. Dapat juga berupa petunjuk untuk menghilang dengan suatu cara tertentu, dengan arti melakukan perlahan dan bertahap.
Dual Role :
Pemutaran lebih dari satu bagian peran seorang aktor/aktris dalam sebuah film yang sama.

Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat.
Dubbing biasanya diselesaikan dengan menggunakan Film Loops – bagian pendek dari sebuah gambar beserta dialognya dalam bentuk married print. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.
Dulling Spray :
Sebuah penyemprot aerosol yang menyisakan lapisan yang tidak mengkilat pada permukaan apapun dan tidak mengakibatkan penyilauan pada lensa kamera.
Durasi :
Waktu yang diberikan atau dijalankan
Dimmer :
Digunakan untuk mengontrol naik turunnya intensitas cahaya
Dissolve :
Teknik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera
Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera
muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh
jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop
Dramatic Emotion :
Emosi gambar secara dramatis
Editing :
Proses pemotongan gambar

Editor :
Sebutan bagi seseorang yang berprofesi sebagai ahli pemotongan
gambar video dan audio.
Editorial Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, kadang dengan bantuan asisten sutradara atau produser.
Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala alat elektrik. (misalnya: lampu, kabel, dan lain sebagainya) untuk kebutuhan film.
Electrician :
Orang yang bertanggung jawab terhadap penempatan dan penyesuaian cahaya serta menyediakan listrik sesuai kebutuhan tiap alat.
Exclusive Contract :
Kontrak yang menyatakan bahwa seseorang dapat bekerja hanya untuk orang atau perusahaan tertentu yang mengontraknya.
Exhibitor :
– Orang atau perusahaan yang memiliki bioskop atau drive-in atau rantai lain yang memungkinkan ditontonnya sebuah film.
– Teater atau drive-in yang mempertunjukkan sebuah film.
Exposed :
Bahan baku film yang telah dipakai untuk merekam gambar. Kata “exposed” wajib dicantumkan pada setiap can film yang telah dipakai.
Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.
Extra :
Orang yang dipekerjakan sebagai pemain latar, misalnya sebagai salah satu orang dalam kerumunan dalam adegan di jalan.

Engineering :
Sebutan dalam pengerjaan dan pembagian kerja dalam masalah
teknis penyiaran
Establish Shoot :
Gambar yang natural dan wajar

Extreme Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak dekat
Fade Out, Fade In :
Efek berupa gamabr yang perlahan hilang dan menjadi gelap (fade out) atau gambar yang muncul dari kegelapan (fade in). Digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.
False Move :
Gerakan yang tidak terencana oleh aktor/aktris sebelum melakukan gerakan yang telah direncanakan. False Move yang dilakukan aktor dapat memunculkan masalah dengan mengatur Dolly Grip untuk bergerak bersama dolly dan kamera karena ia berpikir bahwa gerakan aktor adalah isyarat untuk menggerakan kamera.
Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Juga menciptakan efek masa lalu dan film bisu.
Feature Part :
Peran yang tidak terlalu penting untuk seorang bintang, tapi cukup besar untuk memunculkan perhatian khusus. Biasanya dilakukan oleh aktor/aktris yang telah dikenal baik oleh penonton. Saat ini lebih dikenal dengan Cameo.
Fifty-fifty :
Biasanya sudut kamera atau pengambilan gamabr ketika dua orang aktor/aktris saling berhadapan, berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.
Fill Light :
Set pencahayaan umum yang digunakan untuk memperhalus kontras dari key lighting.
Film :
Media untuk merekam gambar yang menggunakan selluloid sebagai bahan dasarnya. Memiliki berbagai macam ukuran lebar pita seperti 16mm dan 35mm.
Film Clip :
Bagian pendek dari sebuah film.
Film Loader :
Pengisi Film. Anggota tim kamera kadang adalah asisten kameramen yang mengisi film yang belum diekspose ke dalam magazine dan mengeluarkan film yang telah diekspose ke dalam can.
First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan premiere.
Fishpole Boom :
Sebuah tiang ringan yang dapat digenggam dan dapat dipindahkan untuk digunakan meletakkan mikrofon di lokasi yang sulit selama pemfilman.
Flag :
Miniatur Gobo dari kayu lapis atau kain pada bingkai metal yang diletakkan pada century stand.
Flare :
Ketika suatu obyek atau cahaya dari set memantulkan cahaya yang tidak diinginkan scara langsung pada lensa.
Flashback :
Bagian dari cerita film yang mengisahkan waktu periode awal, tergantung dari cerita.
Flub :
Ketika aktor/aktris melakukan kesalahan dalam pengucapan dialog – flubbed his line
Fluid Head :
Landasan pada tripod kamera yang memberikan gerakan halus untuk kamera melalui penggunaan flywheel yang diletakkan dalam wadah berisi minyak dalam landasan itu sendiri.
Focus :
Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati
obyek aslinya
Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.
Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada aktor/aktris yang bergerak mendekati atau menjahui kamera. Biasanya menjadi tugas first assistant cameraman.

Follow Shots :
Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.
Final Editing :
Proses pemotongan gambar secara menyeluruh
Floor Director :
Seseorang yang bertanggungjawab membantu mengkomunikasikan
keinginan sutradara dari master control ke studio produksi
Footage :
Gambar-gambar yang tersedia dan dapat digunakan
Footage Counter :
Alat penghitung yang berada pada kamera untuk tetap dapat mengikuti jumlah film yang telah diekspose.
Four Walled Set :
Sebuah set yang memiliki 4 dinding bukan 3 seperti biasanya. Keempat dinding menutup area aksi secara sempurna namun mungkin dapat dipindahkan untuk memungkinkan pergerakan cahaya dan kamera selama melakukan pengambilan gambar.

Frame :
– Suatu gambar dari banyak gambar pada gulungan film yang telah diekspose, ukuran frame bervariasi sesuai format yang akan diambil gambarnya.
– Menyesuaikan kamera dan lensa sehingga gambar yang akan diambil memiliki batasan yang diinginkan.
Frame per Second (fps) :
Sebuah film 35mm berputar dalam kamera dengan kecepatan normal menghasilkan 24 frame perdetiknya sehingga bila banyak frame yang diputar tiap detiknya aksi dari subyek akan diperlambat ketika diproyeksikan dalam kecepatan normal. Bila lebih sedikit dari 24 frame yang diputar maka aksi tampat dipercepat bila diproyeksikan dengan kecepatan normal.
Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.
Freeze :
Perintah bagi aktor/aktris untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.
Gaffer :
Pemimpin electrician yang bertanggung jawab di bawah Director of Photography mengenai pencahayaan set.
Geared Head :
Unit dimana kamera dipasangkan yang dapat dihubungkan pada dolly atau crane dan panned (gerakan secara horisontal) atau tilted (gerakan secara vertikal) memungkinkan kamera untuk mengikuti gerakan.

Gen :
Truk generator yang digunakan untuk menyediakan tenaga listrik ketika unit film berada di lokasi atau tambahan penyediaan tenaga di studio. Juga disebut sebagai genset.
Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Green Departement :
Bertanggungjawab untuk menyediakan pepohonan, semak, bunga, rumput, dan benda-benda hidup lainnya baik yang asli maupun buatan.
Grip :
Orang yang berwenang memindahkan dan mengatur trek atau jalannya kamera – apapun yang membutuhkan cengkeraman yang kuat – di set.
Grip Chain :
Rantai ringan yang digunakan untuk berbagai keperluan yang dilakukan oleh bagian grip. pada set biasanya digunakan pada sekitar kaki kursi atau sofa yang ditempati pemain untuk mencegahnya bergerak.

Hairdresser :
Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.
Hairdresser Departement :
Bertanggungjawab atas kebutuhan rambut asli maupun wig untuk para aktor dan aktris.
Hand Cue :
biasanya diberikan oleh sutradara atau asistennya untuk menunjukan waktu masuk seorang aktor/aktris atau bagian khusus dari suatu adegan.

Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod
Headroom :
Ruangan bagian atas suatu obyek dalam gambar dengan bagian atas frame.
High Head :
Tripod logam kecil dengan ketinggian tertentu yang dapat dipasangkan ke lantai untuk mempertahankan posisinya. Digunakan untuk menahan kamera saat pengambilan gambar dengan sudut rendah.

Hot Set :
Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :
Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :
Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik
untuk syuting.
Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.
Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.
Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.
Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.
Intercut :
Mengubah urutan tindakan dari belakang ke depan dari sebuah adegan ke adegan lain, biasanya dilakukan dengan kecepatan cukup tinggi.

Iris :
bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.
Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.
Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan
Jimmy Jib :
Katrol kamera otomatis yang digerakan dengan remote

Key Grip :
Orang yang memimpin para pekerja grip.
Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi subyek tertentu.
Lab :
Secara umum disebut sebagai suatu tempat untuk memproses exposed film pada tahap akhir.

Lens (Lensa) :
Konstruksi dari berbagai macam potongan kaca yang dipasang sesuai kebutuhan dan dimasukkan kedalam tube metal. Beberapa jenis lensa bersifat tetap dalam arti tidak dapat diubah-ubah panjangnya.

Light Meter :
Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.
Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.
Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.
Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seoarang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.
Location Departement :
Bertanggung jawab untuk mendapatkan lokasi khusus yang dibutuhkan untuk syuting film serta membuat penagturan agar seluruh kru dan peralatan dapat mencapai lokasi tersebut.
Long Focus Lens :
Istilah yang relatif digunakan untuk menggambarkan lensa yang lebih panjang dari ukuran fokus normal (telephoto) dan memberikan perbesaran image.
Looks :
Arah khusus yang diminta pada aktor/aktris untuk menagrahkan matanya dengan tujuan untuk menyesuaikan tindakan pada gambar sebelumnya. Bisa juga untuk mengindikasikan lokasi seseorang atau benda yang tidak ada dalam gambar, misalnya diluar kamera.

Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara
pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.
Magazine :
Wadah film yang membentuk bagian dari suatu kamera atau proyektor. Magazine bersifat tahan cahaya serta tidak memungkinkan cahaya untuk masuk ke film yang belum atau sudah exposed didalam magazine.
Magnetic Recorder :
Alat perekam pita magnetik.
Make-Up Call :
Waktu untuk aktor/aktris berada pada bagian make-up atau ruang rias sebelum dimulainya syuting.
Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.
Mark It :
Perintah terhadap asisten kamera untuk melepaskan clapper stick pada slate board untuk memberikan tanda suara pada adegan ketika kamera sedang berjalan pada kecepatan fotografi.
Marks :
Digunakan untuk memberikan referensi pada aktor/aktris atau dolly mengenai posisi tertentu dalam suatu adegan. Tanda ini dapat dibuat ditanah atau lantai dengan menggunakan kapur, kertas perekat, tees atau segitiga dari kayu serta metal.
Married Print :
Gabungan antara track gambar dan suara setelah film tersebut selesai diedit. Istilah ini tidak dikenal dalam produksi dengan menggunakan format video.
Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.

Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.
Matte :
Sebuah cut-out atau penutup sebagian yang diletakkan didepan lensa untuk mencegah ekspose dari bagian film. Misalnya sepasang kembar identik sedang berbicara, padahal hanya satu aktor/aktris yang memerankan peran tersebut.
Matte Box :
Sebuah frame yang dipasang didepan lensa kamera dan didesain untuk menahan matte kamera yang digunakan pada suatu efek khusus. Matte Box biasanya dikombinasikan dengan sunshade.

Measuring Tape :
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.
Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)
Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

Montage :
Urutan gambar yang mengalir, menyatu, atau kadang dipotong dari yang satu ke yang lainnya. Digunakan untuk memperlihatkan peningkatan atau pembalikan waktu terhadap perubahan lokasi.
M.O.S. :
Porsi gamabr dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.
Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.
Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.
Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara
Medium Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat
Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak dekat
Medium Long Shot :
Gambar diambil dari jarak yang panjang dan jauh
Middle Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak sedang
Master Shot :
Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan pada saat melakukan proses editing.
N.G. :
No Good (tidak baik) Istilah ini dipakai sebagai komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak baik pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action
NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem warna televisi yang dipergunakan di negara Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, NTSC terdiri dari 525 garis pemindaian yang berada pada rate 30 frame perdetiknya.
Non-Exclusive Contract :
Kesepakatan dimana sesorang dijamin untuk ikut dalam sejumlah produksi namun diperbolehkan untuk bekerja pada produksi lainnya.
Non-Theatrical Film :
Film yang tidak dipertontonkan di bioskop melainkan untuk film pelatihan.
O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Outs, Out Takes :
Bagian gambar yang tidak masuk pada versi lengkap dari sebuah film.
Overlap :
Perintah untuk aktor/aktris agar memulai dialog tanpa harus menunggu pemeran lainnya menyelesaikan dialognya.
Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita.
Biasanya adegan ini dikemas secara kreatif dan menarik untuk
mendapatkan perhatian dari penonton
PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem warna televisi yang pertama kali dibuat di Jerman, dan digunakan di Eropa dan beberapa negara lain termasuk Indonesia. PAL terdiri dari 625 garis pemindaian berada pada rate 25 frame perdetiknya.
Plot :
Alur cerita dari sebuah naskah.
P.O.V. :
Point of View (Sudut Pandang).
Practical :
Deskripsi dari sesuatu dalam sebuah set film seperti pada kehidupan nyata. Misalnya kompor gas, bak cuci, pintu terbuka, pencahayaan lampu.
Print :
Perintah ketika pengambilan gambar telah lengkap dan dikirim ke laboratorium untuk dikembangkan.
Producer :
Sebutan ini untuk orang yang memproduksi sebuah film tetapi bukan dalam arti membiayai atau menanamkan investasi dalam sebuah produksi. Tugas seorang produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disetujui oleh executive producer.
Production Departement :
Bagian yang menentukan batasan biaya dan menangani persiapan dan pelaksanaan atas segala keperluan dalam sebuah produksi.
Production Assistant :
Bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi dilapangan selama proses produksi.

Production Manager :
Orang yang bertanggung jawab atas detail produksi dari awal sampai produksi itu selesai.
Production Unit :
Terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang diperlukan dalam suatu produksi.
Prop Box (Kotak Properti) :
Tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran serta memiliki roda yang gunanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang kebutuhan suatu produksi.
Prop Man :
Bertugas untuk memastikan bahwa properti ada ditempat yang seharusnya pada saat dibutuhkan untuk suatu produksi.

Power Pack :
Tempat khusus untuk pembagian arus listrik
Panning :
Pergerakan horisontal kamera dari kiri kekanan maupun sebaliknya
Rain Cluster :
Sebuah perangkat sprinkler yang dapat digantung diatas kepala untuk memberikan simulasi efek dari hujan. Di sini sering memakai semburan dari mobil pemadam kebakaran.
Raw Stock :
Film yang belum diekspose.

Reaction Shot :
Pengambilan gambar yang dimasukkan dalam sebuah adegan untuk menunjukkan efek kalimat atau tindakan terhadap partisipan lain dalam adegan tersebut.
Reel of Film :
Jumlah film yang akan diproyeksikan dalam waktu 10 menit. 900 feet untuk ukuran 35mm atau 360 feet untuk ukuran 16mm. Gulungan standar dapat menampung film sepanjang 1000 feet untuk 35mm dan 400 feet untuk 16mm.
Reflector :
Pemantul yang permukaannya berlapis perak digunakan untuk memantulkan cahaya. Untuk pengambilan film eksterior reflektor sering digunakan untuk mengarahkan sinar matahari ke bagian dalam suatu adegan.
Release Print :
Married Print yang dibuat untuk didistribusikan ke bioskop setelah answer print (telah disetujui)

Re-Load :
Penanda dari departemen kamera atau tata suara ketika mereka telah kehabisan persediaan untuk merekam.
Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya telah diproduksi.
Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau acara televisi.
Research Departement :
bagian riset yang terdiri dari orang-orang yang menilai otentisitas artikel, benda, kostum, dan peristiwa dalam sebuah film sebelum produksi film tersebut dijalankan.
Resolution, Resolving Power :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail yang halus.

Re-Take :
Pengulangan sebuah adegan dalam syuting.

Reverse, Reverse Angle :
Lawan dari sudut kamera dari adegan yang baru saja diselsaikan untuk memperlihatkan sisi lain dari gambar.

Rigging :
Sebuah rangka pondasi untuk penyangga lampu penerangan pada suatu set. Sering disebut juga dengan Scaffolding.

Roll, Rool ‘em :
Perintah yang biasanya diberikan oleh asisten sutradara ketika sutradara merasa adegan telah siap untuk pengambilan gambar dengan memfungsikan kamera film dan peralatan rekam lainnya.

Rough Cut :
Penggabungan dari berbagai adegan film menurut suatu cerita yang komprehensip, biasanya sudah dengan dialog dan soundtrack.
Running Shoot :
Menggerakkan kamera untuk menyesuaikan dengan aktor/aktris ketika mereka menyeberangi set atau lokasi.
Rushes :
Cetakan dari hasil pengambilan gambar hari itu yang diproses pada hari yang sama sehingga dapat dilihat pada besoknya.
Rundown :
Susunan isi dan alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh
durasi, segmentasi, dan bahasa naskah
Run Through :
Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara yang disesuaikan dengan
urutan acara dalam rundown
Retake :
Pengambilan ulang suatu gambar/adegan

Sandbag :
Tas/bungkusan berisi pasir untuk pemberat.
Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi atau bisa juga mencari orang yang berbakat.
Screen Play :
Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melakukan produksi film.
Screen Test :
Sebuah adegan yang memberikan kesempatan bagi aktor/aktris untuk memperlihatkan kemampuannya. Adegan ini biasanya diambil dari film untuk mempertimbangkan seorang aktor/aktris diambil lengkap dengan menggunakan kostum, set, dan riasan.
Scrim :
Sebuah bendera yang dibuat dari materi tembus cahaya. Kegunaannya adalah sebagian untuk mengurangi dan mendifusikan sumber cahaya. Berada ditengah antara sebuah gobo dan sebuah diffuser.
Script Supervisor, Script Clerk :
Bertanggungjawab untuk mencatat seluruh adegan dan pengambilan gambar yang diproduksi. termasuk semua informasi yang diperlukan seperti durasi, arah gerakan, penagrahan mimik wajah, penempatan aktor/aktris dan properti, serta gerakan fisik yang harus disesuaikan aktor/aktris dalam semua cakupan yang berurutan untuk kemungkinan pengambilan gamabr ulang. Semua informasi ini dimasukkan dalam salinan naskah milik supervisi naskah dan digunakan oleh editor ketika tahap editing. Dalam salinan ini juga dimasukkan catatan dari sutradara untuk editor.
Sequence :
Sebuah rangkaian adegan.
Shutter :
Mekanisme kamera yang mencegah cahaya masuk ke film diantara pengukuran frame segingga serial foto yang terpisah memiliki jarak walaupun gulungan film tetap diputar dalam kamera.

Sneak, Sneak Preview :
Pemutaran film di bioskop tanpa pemberitahuan sehingga pembuat film dapat memperoleh tanggapan dari penonton sebelum didistribusikan secara umum. Seringkali tanggapan dari penonton untuk membuat perubahan dalam film yang menurut produser akan membuat film tersebut lebih berhasil dipasaran.
Soft Focus :
pengambilan gambar dengan lensa yang diatur sedikit out of focus sehingga subyek tampak agak buram. seringkali digunakan ketika memfoto seorang aktor.aktris yang mulai terlihat berkerut.
Soft Light :
Pencahayaan lampu yang memungkinkan tidak menghasilkan bayangan dan berpendar secara keseluruhan.

Sound Camera :
Kamera yang beroperasi dengan tenan selama perekaman gambar sehingga suara dapat direkam tanpa adanya bunyi dari kamera.
Splice, Splicing :
Penggabungan akhir dari 2 buah film sehingga terbentuk sebuah kesatuan yang berkesinambungan. Proses ini disebut splicing, hubungannya disebut splice.
Sprocket :
Roda dengan gerigi teratur yang mencengkeram bagian pinggir film untuk menggerakkannya didalam kamera.
Still man, Photographer :
Bertanggungjawab atas publiitas dan pembuatan foto set serta lokasi. Dapat juga digunakan pada kesempatan tertentu.
Stop Frame :
Pengulangan sebuah frame film untuk memberikan efek diam pada aksi. Juga disebut dengan freeze frame.
Story Board :
Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :
Kotak persegi panjang untuk meningkatkan ukuran lensa keluar, dipasangkan pada kamera diabgian lensa depan untuk mencegah masuknya cahaya kedalam lensa.
Super, Superimposure :
Penempatan sebuah gambar diatas gambar lainnya, misalnya title atau subtitle terjemahan bahasa.
Swish Pan :
Gerakan panning ketika kamera digerakkan secara cepat dari sebuah sisi ke sisi lainnya, menyebabkan gambar menjadi kabur untuk memunculkan kesan gerakan mata secara cepat.
Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut yang mudah
Script Format :
Format penulisan naskah acara
Script Marking :
Penandaan pada naskah untuk menjadi catatan bagi sutradara maupun
pendukung produksi lainnya
Stock Shot :
Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk menjadi pilihan pada
saat gambar-gambar tersebut memasuki proses editing
Suspense :
Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan yang menegangkan
dan mengundang rasa was-was bagi penonton
Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati
dengan posisi diam
Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan cerita

 

Tag, Tag Line :
Kalimat atau tindakan dalam sebuah adegan terakhir dari sebuah film yang diharapkan dapat menjadi puncak dari apa yang telah disuguhkan sebelumnya.

Teaser :
Adegan pertama dari keseluruhan gambar dari cerita. Biasanya adegan yang menarik, digunakan di televisi.
Tele-Photo Lens :
Lensa dengan panjang fokus lebih besar dari normal yang digunakan untuk membuat obyek jauh menjadi dekat.
That’s a Hold :
Perintah dari sutradara pada script supervidor dan asisten kamera bahwa pengambilan gambar yang baru saja selesai tidak akan dikirim ke lab untuk dicetak tapi diberi label “hold” sampai pengambilan gambar lainnya telah selesai dan sutradara memutuskan gambar mana yang akan dicetak.
Tilt :
Menggerakan kamera secara vertikal (naik-turun)
Tone Track :
Soundtrack yang memunculkan bunyi latar yang diasosiasikan dengan lokasi interor atau eksterior. Suara ini biasanya tidak disadari namun memberikan sentuhan realitas yang dibutuhkan oleh sebuah film.
Top Lighting :
Cahaya dari sumber yang diletakkan diatas subyek sehingga turun menyinari.
Transportation Departement :
Bertanggungjawab terhadap semua kendaraan yang digunakan oleh kru dan pemain selama syuting berlangsung. Dalam hal ini termasuk antar dan jemput kru atau pemain.

Treatment :
Presentasi detail dari cerita sebuah film namun belum berbentuk naskah.

Triangle :
Alat yang digunakan untuk menahan kaki-kaki tripod agar tidak bergerak jika diletakkan di lantai yang licin.
Two/Three Shot :
Perintah yang seringkali digunakan oleh sutradara untuk mengarahkan kamera pada dua/tiga obyek yang dituju.
Unit Manager :
Bertanggungjawab atas kelancaran operasi perusahaan film di lokasi.
Variable Speed Motor :
Variasi kecepatan film di kamera untuk keperluan efek khusus.
Viewfinder :
Instrumen optik yang diletakkan samping kiri blimp yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi sementara kamera sedang berputar.
Voice Cue :
Sinyal vokal dari sutradara atau aktor/aktris dalam adegan bahwa sudah waktunya aktor/aktris lain masuk.
VTR :
Video Tape Recording

Very Long Shot :
Gambar yang diambil dari jarak yang sangat jauh
Voice Over :
Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita (narasi)

Wardrobe Box :
Kotak penyimpanan kostum.
Wardrobe Departement :
Bertanggungjawab atas pemilihan kostum yang akan dipergunakan untuk produksi.

 

 

Wild Line :
Kalimat yang biasanya direkam setelah pengambilan gambar atau diakhir syuting pada hari itu. Dipergunakan untuk mengulang kalimat dari suatu adegan yang telah diambil karena tidak jelas.

White Balance :
Prosedur untuk mengoreksi warna gambar dari kamera dengan
mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum warna.
Umumnya prosedur ini menggunakan warna putih sebagai dasar
Wild Recording :
Perekaman yang tidak dilakukan selama proses fotografi. efek suara dan bunyi acak biasanya direkam dengan cara ini, kadang untuk narasi dan musik juga. Seringkali disebut Non-Sync.

Wind Machine :
Kipas angin besar yang ditutup dengan kawat pengaman. Digunakan untuk menciptakan efek angin.
Wipe :
Efek optik antara 2 gambar dimana gambar ke-2 mulai di bagian luar layar dan menghapus gambar pertama sampai dengan garis yang masih terlihat dan pada akhirnya menutupi gambar pertama.
Wrap :
Perintah yang digunakan untuk memberitahukan pada semua orang bahwa syuting pada hari itu sudah selesai.

Proses Kerja Penata Suara

Posted: February 25, 2013 in Let's Make A Movie
    Boomer
 
Penata Suara adalah seorang yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan audio, konsep serta kualitas audio yang dihasilkan menurut Diki Umbara dan Wahyu Wary Pintoko (2010;152).  Desain penata suara / audio apakah itu dialog, monolog, musik atau efek suara membantu memperkuat suasana ataood yang ingin dicapai oleh sebuah film atau drama. Desain tata suara yang baik sebaiknya dialog dan efek suara dirancang sedemikian rupa sehingga memenuhi film yang dibuat. Perencanaan tata suara juga membantu para kru yang bertanggung jawab menangani suara tahu pasti apa yang harus mereka kerjakan menurut Heru effendy (2009;67).
 
           Untuk menciptakan dan merekam suara, penata suara harus memahami karakteristik dasar yaitu : frekuensi dan amplitudo. Frekuensi adalah banyaknya getaran perdetik  dalam arus listrik yang terus berubah dan amplitudo merupakan tinggi maksimum dari sebuah gelombang. Selain itu seorang penata suara harus peka terhadap penyimpangan audio yaitu : distorsi dan noise. Distorsi adalah adanya perubahan yang tidak diinginkan dalam sinyal audio, pada umumnya disebabkan oleh usaha untuk mendapatkan perekaman tingkat sinyal audio yang terlalu tinggi untuk peralatan. Sedangkan noise adalah suara yang tidak dikehendaki yang masuk kedalam audio.
 
1. Pra Produksi Penata Suara
 
Dalam proses pra produksi ini penulis sebagai penata suara berdiskusi bersama tim untuk melakukan penentuan tema dan judul yang akan dijadikan sebagai karya non drama televisi tugas akhir. Pada akhirnya setelah melakukan diskusi dan menyatukan ide – ide tertuang, penulis beserta rekan lainnya sepakat untuk membuat sebuah format acara magazine show yang berjudul “I Like It”. Format acara ini, ditujukan untuk semua umur, maka penulis sebagai penata suara membuat konsep semenarik mungkin, agar  program “I Like It” ini, sehingga dapat diterima dan disukai masyarakat.
Penulis bertugas sebagai penata suara, dan pada tahap pra produksi penulis melakukan beberapa persiapan – persiapan yang akan dilakukan, agar pada saat produksi tidak terjadi kesalahan – kesalahan.
 
Penelaahan Naskah
 
Setelah penulis membuat naskah dan disetujui oleh produser dan kemudian dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh penulis, kemudian tim berkumpul untuk mendiskusikan konsep – konsep apa saja yang di inginkan oleh sutradara, baik dari segi pengambilan gambar, tata artistik, editing, pencahayaan, sampai pengambilan suara. Sampai pada akhirnya penulis merancang konsep pengambilan suara sesuai dengan naskah dan permintaan sutradara. Setelah konsep selesai dibuat, penulis memikirkan apa-apa saja yang diperlukan pada saat produksi, seperti: mic, , clip-on dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan.
 
Riset dan Survey Lokasi
 
Pada tahap riset dan survey lokasi, penulis sangat membutuhkan untuk mengetahui tempat atau lokasi yang nantinya akan digunakan untuk proses produksi yang bertujuan untuk mempermudahkan pada saat produksi berlangsung.
 
Membuat Daftar Peralatan
 
Setelah penulis tahu apa saja peralatan yang dibutuhkan dalam produksi nanti, maka selanjutnya penulis membuat daftar peralatan – peralatan, hal ini penulis lakukan guna mendata secara keseluruhan apa saja yang dibutuhkan dan meminimalis kesalahan pada saat produksi.
 
Hunting Peralatan
 
Setelah budget diterima, maka penulis mulai mencari dan menyewa peralatan – peralatan yang dibutuhkan dalam produksi nanti, setelah didapat semua, penulis memeriksa peralatan tersebut apakah kondisinya dalam keadaan baik atau tidak.
 
2. Produksi
 
Setelah proses pra produksi dipersiapkan secara matang, proses produksi pun dimulai. Produksi akan berjalan baik ketika semua proses di pra produksi sudah dilakukan dengan baik. Segala kekurangan dalam pra produksi hendaknya segera diselesaikan agar tidak mengganggu kelancaran pada proses berikutnya yakni produksi menurut Umbara dan Pintoko (2010;163)
Pada saat tahap produksi audio, penulis melakukan perekaman suara secara langsung (direct sound), kelebihan dari direct sound sendiri yaitu suara yang terekam akan mencerminkan mood pembawa acara saat pengambilan gambar dilakukan, dengan begitu suara yang terekam diperkuat oleh gambar dan suasana yang muncul saat pengambilan gambar. Sedangkan untuk kelemahan dari direct sound adalah dilokasi shooting sering muncul suara – suara yang tidak diinginkan dan tidak bisa dikendalikan, dan sebagai penata suara yang baik, penulis berusaha untuk bekerja dengan maksimal, selalu menjaga jarak mic / clip-on dengan host tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, agar suara yang dihasilkan tetap stabil dan sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga selalu melihat kondisi lokasi shooting pada saat perekaman suara, untuk meminimalisir terjadinya noise atau suara host lebih kecil dibandingkan dengan suara dari luar / suara yang tidak diinginkan, mengingat lokasi shooting dilakukan di tempat terbuka / outdoor. Selain itu juga, penulis sebagai penata suara juga melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Memeriksa peralatan yang akan digunakan sebelum shooting  dilakukan.
  2. Menjaga  peralatan  yang berhubungan dengan pengambilan suara.
  3. Merapihkan dan memeriksa kembali peralatan setelah shooting dilakukan.
 3. Pasca Produksi
 
Pada tahap pasca produksi penulis sebagai penata suara bersama rekan lainnya melihat hasil video yang sudah di capture dan akan masuk ke tahap edit, dan penulis memberikan musik, dan ilustrasi musik kepada editor sesuai dengan yang diperlukan untuk dimasukkan didalam video, dan mendampingi editor dan sutradara dalam proses edit. Selain itu penulis juga membuat laporan kerja.
 
4. Peran dan tanggung jawab  Penata Suara
 
Dari pengertian diatas dapat diuraikan peran dan tanggung jawab penata suara secara garis besar :
  1. Membuat konsep  penata suara
  2. Berkonsultasi dengan sutradara tentang  penataan suara yang baik untuk diambil.
  3. Survey lokasi bersama tim.
  1. Menyiapkan alat – alat apa saja yang dibutuhkan untuk proses produksi.
  2. Memeriksa peralatan apakah dalam kondisi baik atau tidak sebelum dan sesudah shooting.
  3. Melakukan pengambilan suara sesuai konsep.
  4. Memperoleh suara dengan jelas baik itu suara host dan reporter, maupun pada saat wawancara, yang sesuai dengan naskah.
  5. Menjaga audio agar suara yang dihasilkan layak dan tidak terjadi noise.
  6. Menjaga keselamatan peralatan dan yang berhubungan dengan pengambilan suara.
  7. Mendampingi editor bersama sutradara untuk membuat ilustrasi musik, back sound dan sound effect pada tahapan edit.
5. Proses penciptaan karya
 
Konsep Kreatif
 
Setelah penulis naskah membuat naskah dan disetujui oleh produser dan sutradara yang kemudian dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh penulis, pada saat itu pula penulis membayangkan sebuah konsep penataan suara yang easy listening, karena program acara ‘I Like it’, di tujukkan untuk remaja maka penulis membuat konsep kreatif. Penulis juga membayangkan sebuah konsep audio yang ceria sesuai dengan tema yang diusung yang dapat memanjakkan telinga penonton, dan juga membuat penonton tidak jenuh pada saat menonton. Penulis juga menambahkan beberapa (vo) untuk menjelaskan lokasi, selain itu penulis  juga menambahkan beberapa elemen musik, back sound, ilustrasi musik dan sound effect. Khusus untuk musik yang dipilih yaitu musik yang pada  saat ini popular/digemari oleh pemirsa.
 
Konsep Teknis
 
Dalam program “I Like it” ini, penulis untuk teknisnya dalam perekaman suara sendiri penulis menggunakan mic dan clip-on. Penggunaan  clip-on ini bertujuan  untuk merekam suara pembawa acara dan reporter pada saat melakukan wawancara dengan nara sumber, sedangkan  mic untuk merekam atmosfer yang ada disekitar lokasi shooting. Alasan pemilihan mic dan clip- on, penulis melihat dari sisi teknisnya yaitu audio yang dihasilkan cukup baik.
 
Konsep Produksi
 
Pada tahap produksi di program “I Like it” ini, penulis sebagai penata suara, bekerja sama dengan sutradara dan penulis naskah serta penata kamera untuk membicarakan konsep yang akan digunakan, agar pada saat produksi tidak terjadi kesalahan. Untuk konsep itu sendiri penata suara menambahakan back sound maupun sound effect.
 
1. Musik
 
Musik dimaksudkan untuk mempertegas sebuah video agar lebih menarik didengar. Apabila musik dimaksudkan sekedar latar belakang, maka musik masuk kategori element effect suara.
 
2. Back Sound
 
Back sound dimaksudkan untuk mengiringi sebuah potongan video agar penonton tidak jenuh menontonnya.
 
3. Ilustrasi Musik
Ilustrasi musik adalah suara, baik dihasilkan melalui instrument musik atau bukan yang disertakan untuk memperkuat suasana atau perekaman langsung sebagai latar belakang adegan saat itu.
 
Sound Effect
 
Suara yang ditimbulkan oleh aksi dan reaksi dalam program dalam elemen efek suara. Efek suara perlu untuk memanjakkan telinga penonton, maka penata suara yang baik akan memasukkan semua bunyi yang masuk akal dengan cerita dan menghilangkan semua yang tidak perlu. Dalam pembuatan sound effect beberapa segment menggunakan sound effect dari meja editing.
 
6. Kendala produksi dan Solusinya
 
Dalam setiap proses produksi, mulai dari konsep hingga paska produksi tentu selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kendala produksi sudah tidak lagi menjadi sebuah hal yang mustahil, bahkan itu adalah sebuah bentuk kemajuan dalam proses berfikir dan tentu menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
  1. Kendala pada saat produksi berlangsung, talent yang memiliki tingkat emosional lebih, menjadikan proses produksi pun sedikit terhambat, dan solusi yang kami gunakan adalah, berusaha lebih sabar dan mengerti sifat talent, agar talent merasa nyaman dan mau melanjutkan produksi.
  2. Kendala penata suara saat produksi adalah pada saat shooting di Gelora Bung Karno, saat pengambilan gambar host, banyak kendaraan yang melewati dan saat pengambilan gambar di Toko, banyak Customer berbicara kencang dan saat pengambilan gambar di Arena Laps banyak suara yang keluar dari knalpot remote control dari peserta dilokasi syuting atau produksi berlangsung. Solusi yang kami lakukan adalah menjaga jarak agar tidak terlalu noise didalam hasil gambar yang diambil.
SPESIFIKASI  AUDIO
Condensor ECM 673 Shotgun
Type of mic                 : Condensor Sony ECM 673
Sound monitor          : Headset
Headset                       : Expand
Clips-On                      : Sennheiser EW 100 G2
Microphone                : Madness AW-70A        
 
Sennheiser EW 100-ENG G2
 
Spesifikasi Sennheiser EW 100-ENG G2
 
Transmit / menerima frekuensi       :  1440
Presets                                                       :  4
Switching bandwidth yang             :  36 MHz
Puncak deviasi                                   :  + / – 48 kHz
Compander                                         :  HDX
Frekuensi respon (Mikrofon)          :  40 Hz …. 18000
Sinyal untuk rasio kebisingan        :  > 110 dB (A)
THD pada 1 kHz                                 :  <0,9%
Sesuai                                                 :  ETS 300422, 300445 ETS, CE, FCC
Audio koneksi                                    :  Jack 3,5 mm
Audio tingkat output                         :  +10 DBU max
(Tidak seimbang)
Dimensi (Receiver)                            :  82 x 64 x 24 mm
Berat (Receiver)                                 :  158 g
RF output daya                                   :  30 mW
Waktu operasi (transmitter)              :  > 8 jam
Tegangan input kisaran            :  Mic / Line: 1.8V / 2.4V (SK100G2) Mic: 1.2V (SKP100G2)
Dimensi (Transmitter)                  :  82 x 64 x 24 mm (SK100 G2
105x43x43mm (SKP100G2)
Berat (Transmitter)                     :  158 g (SK100G2), 19 (SKP100G2)
Transducer, mikrofon jenis      :  Electret
AF sensitivitas                             :  20 mV / Pa
SPL pada 1kHz                            :  130 dB (SPL) maks.
Directivity                                      :  Omni Directional
 
Spesifikasi Condensor Sony PD177(Mic. EMC673
 
Condensor Sony PD177
 
Headphones                                            :  Stereo mini jack (ø3.5 mm)
LANC                                                    :  Stereo mini-mini jack (ø2.5 mm)
 
Lembar Kerja Audioman
  1. Konsep penata Audio dan ilustrasi
  2. Spesifikasi Kebutuhan Audio
7. Kesimpulan Penata Suara
 
Penata Suara adalah seorang yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan audio, konsep serta kualitas audio yang dihasilkan. Pada proses pelaksanaan film non drama (Magazine Show) Tugas Akhir ini, saya mendapatkan kepercayaan oleh tim sebagai penata suara. Di produksi program ini saya banyak memperoleh ilmu dan pengalaman, terutama dibidang Audio yang sesuai dengan jobdesk saya diprogram acara ‘’I LIKE IT’’ ini. Saya jadi lebih  mengetahui hal – hal apa saja yang saya lakukan dari pra produksi, produksi dan paska produksi, didalam proses tersebut banyak kendala dari teknis dan non teknis, kendala tersebut bisa teratasi   atas dasar kerja sama tim yang solid dan juga hasil yang maksimal.
 
Sampai pada akhirnya film non drama ( Magazine Show) ini selesai sampai pada tahap paska produksi merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi penulis dan rekan tim produksi yang terlibat. terlebih ketika penulis menemukan berbagai kendala dalam penyelesaian semua kendala sebagai bahan pembelajaran untuk berkarya yang lebih baik di masa yang akan datang. (Riezky Adrian. 25/2/2013).
 Red Head
 
Jenis lampu    : 2 Lampu Readhead 800 watt
Barndoor         : 2 pasang
Reflektor          : 2 lembar
Filter                 : 2 lembar CTB , 2 lembar CTO
                             2 lembar Diffuse
Alat-alat lain  : Kabel kawat dan stand lampu
 Blonde
Jenis lampu    : 2 Lampu Blonde  2000 watt
Barndoor         : 2 pasang
Reflektor          : 2 lembar
Filter                 : 2 lembar CTB, 2 lembar CTO
                             2 lembar Diffuse
Alat-alat lain  : Kabel kawat dan stand lampu, sand bag.
Kinoflo
Jenis lampu    : 1Lampu Kino Flo  400 watt
Barndoor         : -
Reflektor          : 2 lembar
Filter                 : 1 lembar CTB, 1 lembar CTO
                             1 lembar Diffuse
Alat-alat lain  : Kabel kawat dan stand lampu, sand bag
FILTER
All Purpose Filter :
Untuk menghasilkan cahaya seperti yang kita inginkan, dibutuhkan beberapa asesoris yang menyertai peralatan lighting kita :
Filter CTO
CTB
CTB
CTO
CTO Dan CTB : Adalah sebuah filter yang biasanya dipakai untuk mengubah suhu warna lighting, biasanya dikenal dua jenis yaitu CTO (Color Temperature Orange), CTB (Color Temperature Blue), selain itu ada juga filter color yang berfungsi memberi penekanan pada warna. Neutral Density Filter (ND) berfungsi mengurangi kekuatan cahaya yang dipancarkan lighting.
 
CTB Tungsten Conversion:
KCTB-001 For ARRI Junior 300W.
KCTB-002 For ARRI Junior 650W.
KCTB-003 For ARRI Junior 1000W / Studio 1000W.
KCTB-004 For ARRI Junior 2000W.
KCTB-005 For ARRI Junior 5000W / Studio 2000W.
 
Difuse : Biasanya menggunakan kalkir, berfungsi untuk meratakan sinar agar tidak terlalu spot atau fokus pada obyek.
 
LIGHTING SHEET
 
Production Company     : Sinopsis Production
Project Title                        : Jakarta Buta Jakarta
Lightingman                      : Riezky Adrian
Durasi                                  : 24 Menit
Time Broadcast                 : 20:00 – 20:30 WIB
 
No
Scene
Shoot
Key
Fill
Back Light
Notes
1
1
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras.
2
1
2
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras.
3
1
3
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt + Diffuse White,CTO
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras
4
1
4
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt+ Diffuse White,CTO
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras
5
2
1
Blonde 2000 Watt, CTO
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
6
2
2
Blonde 2000 Watt, CTO
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
7
2
3
Blonde 2000 Watt + Diffuse White
Red Head 800 watt
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
8
2
4
Blonde 2000 Watt + Diffuse White
Red Head 800 watt
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
9.
3
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Difuse White
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
10.
3
2
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Difuse White
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
11.
4
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 Ke arah samping teras rumah.
12.
5
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
13.
6
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB Red Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 ke arah samping teras rumah.
14.
6
2
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB Red Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 ke arah samping teras rumah.
15.
7
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 ke arah samping teras rumah.
16.
7
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 ke arah samping teras rumah.
17.
7
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumahLampu 4 ke arah samping teras rumah.
18.
8
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
19.
9
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke Pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
20.
10
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
21.
10
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
22.
10
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
23.
11
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
24.
12
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
25.
12
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
26.
12
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
27.
13
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
28.
14
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
29.
15
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
30.
15
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
31.
15
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
32.
16
1
Blonde 2000 Watt, CTO
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
33.
16
2
Blonde 2000 Watt, CTO
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
34.
16
3
Blonde 2000 Watt, CTO
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 Bouncing ke Langit – langit rumah.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 diarahkan ke pemain.
35.
17
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTBBlonde 2000 Watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit.
36.
18
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt + Diffuse White,CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
37.
19
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt + Diffuse WhiteBlonde 2000 Watt, CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
38.
19
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt + Diffuse WhiteBlonde 2000 Watt, CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
39.
19
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt + Diffuse WhiteBlonde 2000 Watt, CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.Lampu 3 Bouncing ke Langit – langit rumah.
40.
20
1
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.
41.
20
2
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.
42.
20
3
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.
43.
20
4
Kino Flo 400 Watt
Red Head 800 watt+ Diffuse White , CTB
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 diarahkan ke pemain.
44.
21
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Difuse White, CTO
Blonde 2000 Watt
Lampu 1 diarahkan ke pemainLampu 2 diarahkan ke samping pemainLampu 3 diarahkan ke pemain dengan pantulan reflector.
45.
22
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Difuse White, CTO
-
Lampu 1 diarahkan ke pemainLampu 2 diarahkan ke samping pemainLampu 3 diarahkan ke pemain dengan pantulan reflector.
46.
23
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
47.
24
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
48.
24
2
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
49.
25
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
50.
25
2
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
51.
25
3
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
52.
26
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
53.
26
2
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
54.
27
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
55.
28
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
56.
28
2
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
57.
28
3
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
58.
28
4
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
59.
28
5
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
60.
28
6
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
61.
28
7
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
62.
28
8
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
63.
29
1
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
64.
29
2
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
65.
29
3
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
66.
29
4
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
67.
29
5
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
68.
29
6
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
69.
29
7
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
70.
29
8
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
71.
29
9
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
72.
29
10
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
73.
29
11
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
74.
29
12
-
Pencahayaan Matahari
-
Menggunakan Pencahayaan Matahari (Natural)
75.
30
1
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras.
76.
30
2
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras.
77.
30
3
Kino Flo 400 Watt
Blonde 2000 Watt + Diffuse White,CTORed Head 800 watt
-
Lampu 1 diarahkan ke pemain.Lampu 2 dan 3 diarahkan ke pemain.Lampu 4 dan 5 Bouncing ke Langit – langit teras.
 
 
 
 
 
 
 
(Riezky Adrian, 25/2/2013).

WARNA

Posted: February 25, 2013 in Let's Make A Movie
            Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat dalam suatu cahaya. Sempurna (Berwarna putih), Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru  memiliki panjang gelombang 460 nanometer. Dalam peralatan optis, Warna bisa pula interpretasi otak terhadap percampuran tiga wana premier cahaya : Merah, Hijau ,Biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu Misalnya percampuran 100% Merah, 0% Hijau dan 100% Biru akan menghasilkan interpretasi warna margenta.
 
Cahaya dapat dikelompokan dengan dua jenis yaitu :
 
1. Cahaya Akromatik, tidak berwarna, hanya menggunakan intensitas yang diukur dengan tingkat keabuan, Contoh: TV Hitam – Putih, Citra monokrom yang kita gunakan.
 
2. Cahaya Kromatik, panjang gelombang 400 – 700 nm. Tiga satuan yang digunakan untuk mendeskripsikan kualitas dari sumber cahaya akromatik :
 
a. Radiansi, jumlah energi yang memancar dari sumber cahaya (dalam satuan watt).
 
b. Luminasi, jumlah energi yang diterima oleh observer dari sumber cahaya (dalam satuan lumens, lm). Contoh sinar infra merah memiliki radiasi yang besar tapi nyaris tidak dapat dilihat oleh observer.
 
c. Brightness, Deskriptor yang subjektif, mirip dengan pengertian ada akromatik, salah satu faktor penentu dalam menggambar sensi warna.
 
Berdasarkan kondisi jenis – jenis warna, Warna dapat dikelompokan sebagai berikut :
 
1. Neutral Colour , Adalah warna – warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna premire maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.
 
2. Contras Colour , Adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang bersebrangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna premire dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai apapun kemurnian warna. Contoh warna kontras dengan warna merah dengan hijau, kuning dengan ungu dan biru dengan jingga.
 
3. Hot Colour, Adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran didalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol riang,, semangat, marah, dsb.
 
4. Cool Colour , Adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran didalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman, dsb. Warna sejuk mengesankan jarak jauh.
 
Type Of Colours (Jenis – jenis warna) :

1. Premire Colour : Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna- warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna premire adalah merah, biru, kuning.
 
2. Sekunder Colour :Merupakan hasil campuran warna – warna premiere dengan proporsi 1:1 Misalnya warna jingga merupakan hasil campuran warna merah dengan kuning, hijau adalah campuran biru dan kuning, dan ungu adalah campuran merah dan biru.
 
3. Tersier Colour :Merupakan campuran salah satu warna premire deengan salah sastu warna sekunder. Misalnya warna jingga kekuningan didapat dari pencampuran warna kuning dan jingga.
 
4. Neutral Colour : Merupakan hasil campuran ketiga warna dasar dalam proporsi 1:1:1 warna ini sering muncul sebagai penyeimbang warna – warna kontras di alam. Biasanya hasil campuran yang tepat akan menuju hitam.
 
Berdasarkan warna dasar pembentuknya, warna dapat dikelompokkan menjadi dua jenis pembentuk warna, yaitu CMY / CMYK dan RGB. CMY atau CMYK adalah model warna penintaan (substractive color mode), warna2 primernya (Cyan, Magenta, Yellow, BlacK) tergantung pada pigment pada tinta dan substrate yang dicetak. Sebagai catatan, printer dan cetakan hanya merupakan “output devices”. Warna CMYK disebut juga warna pigment atau subtractive color mode. Warna pigment merupakan warna yang dihasilkan dari benda berupa zat pewarna, cat warna dan lain sebagainya. Campuran dari semua warna dasar CMYK menghasilkan warnahitam.
 
            RGB adalah model warna pencahayaan (additive color mode) dipakai untuk “input devices” seperti scanner maupun “output devices” seperti display monitor, warna – warna primernya (Red, Blue, Green) tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti CCD atau PMT pada scanner atau digital camera, CRT atau LCD pada display monitor. Warna RGB adalah warna yang terbentuk dari cahaya. Warna dasarnya adalah merah hijau dan biru. Jika dari ketiga warna dasar tersebut disatukan maka akan membentuk cahaya putih. Model warna RGB disebut juga warna additive.
 
            Kedua model warna CMYK maupun RGB adalah tidak “merdeka”, artinya CMYK tergantung pada proses cetak, pigment, substrate & sedangkan RGB tergantung pada kapasitas teknologi peralatan yang dipakai; artinya kalau kita mempunyai data warna R 180, maka pada 2 monitor yang berbeda kita mendapatkan persepsi yang berbeda pula, karena sangat sulit untuk menstimulasikan 2 monitor yang berbeda apalagi kalau teknologi yang dipakai berbeda pula.
 
RGB dan CMY tidak cocok untuk mendeskripsikan colors berdasarkan interpretasi manusia. Model Warna yang terdiri dari tiga komponen yaitu Hue (spektrum warna), Saturation (kadar warna Hue) dan Value/Brightness (kadar cahaya). Digunakan untuk membedakan satu warna dengan lainnya. Skala pengukuran nilai Hue berdasar pada derajat numerik lingkaran penuh 360o. Saturation dapat diartikan dengan tingkat kemurnian warna, dimana nilainya dihitung dari berapa banyaknya warna abu – abu yang terdapat pada warna dengan satuan %. Saturasi 0% berwarna abu – abu (desaturated) dan 100% menjadi warna yang sangat murni / cerah (saturated). Sedangkan value (brightness / lightness) adalah nilai gelap terang warna yang biasanya dinilai dengan ukuran persen, dimana 0% = hitam dan 100% = putih.
 
Dalam menampilkan warna pada monitor kita mengenal istilah kedalaman gambar yang disebut dengan nama dpi. Jumlah bit yang dipergunakan untuk menyimpan ketentuan tentang sebuah piksel, menentukan banyaknya variasi warna yang dapat dihasilkan oleh sebuah monitor. Jumlah bit ini sering disebut juga sebagai dengan kedalaman warna atau Color Depth. Seperti yang sering kita kenal kedalaman warna 32, merupakan mode grafis khusus yang sering dipergunakan pada video digital, animasi dan video game untuk memberikan efek – efek tertentu. Mode ini menggunakan 24 bit intuk mendefinisikan warna pixel, dan 8 bit lainnya untuk memberikan efek gradasi pada gambar ataupun objek. Selain jenis monitor, warna dan resolusi gambar pada layar juga ditentukan oleh graphic adapter card, yang merupakan piranti antarmuka penghubung monitor dengan komputer.
 
            Kita mengenal berbagai macam warna di bumi ini yang mengandung arti yang dalam secara visual dan memberikan efek psikologies kepada si pengguna. Dalam hal ini sangat penting untuk dimengerti proses melihat warna untuk menghargai bagaimana semestinya warna tersebut ditampilkan. Tiap – tiap warna memiliki arti khusus berdasarkan efek psikologies si pemakai warna.
  1. Merah memberi dampak dinamis dan cenderung menstimulasi.
  2. Merah muda menggambarkan kemudaan, ceria dan romantisme.
  3. Oranye memberikan energi, vitalitas dan berkesan ramah.
  4. Kuning mampu memancarkan kehangatan, bercahaya dan cerah.
  5. Cokelat berkesan rustic, melindungi, kaya dan tahan lama.
  6. Biru menggambarkan sesuatu yang konstan, kebenaran, ketenangan dan ketergantungan.
  7. Hijau menyiratkan kesan alamiah, segar dan misterius.
  8. Netral memberikan kesan alami, klasik, tidak termakan zaman dan kualitas.
  9. Putih memberi arti keaslian, ringan, terang dan murni.
  10. Hitam mengandung kekuatan, berkesan misterius, klasik dan elegan.
            Dari sedemikian banyak arti warna – warna tersebut, bila dikombinasikan pasti akan menghasilkan lebih banyak ragam warna baru beserta efek psikologies lain yang ditimbulkannya.
 
            Namun warna yang mendominasi dalam Film Drama Televisi ini warna Day Light (Kekuning kuningan) dengan menggunakan Red Head dan setting manual pencahayaan pada kamera serta Day Light dari sinar matahari ( pencahayaan alami ). Dan unsur Day Light ini digunakan saat scene di jalan raya. (Karena banyak menggunakan scene INTERIOR. (Riezky Adrian, 25/2/2013).

KONSEP PENATA CAHAYA

Posted: February 25, 2013 in Let's Make A Movie
Lighting With Kinoflo
 
Pencahayaan
 
            Pencahayaan merupakan salah satu faktor untuk mendapatkan keadaan lingkungan yang aman dan nyaman dan berkaitan erat dengan produktivitas manusia. Pencahayaan yang baik memungkinkan orang dapat melihat objek – objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. Menurut sumbernya, pencahayaan dapat dibagi menjadi :
 
1. Pencahayaan Alami
 
            Pencahayaan alami adalah sumber pencahayaan yang berasal dari sinar matahari. Sinar alami mempunyai banyak keuntungan, selain menghemat energi listrik juga dapat membunuh kuman. Untuk mendapatkan pencahayaan alami pada suatu ruang diperlukan jendela – jendela yang besar ataupun dinding kaca sekurang-kurangnya 1/6 daripada luas lantai. Sumber pencahayaan alami kadang dirasa kurang efektif dibanding dengan penggunaan pencahayaan buatan, selain karena intensitas cahaya yang tidak tetap, sumber alami menghasilkan panas terutama saat siang hari. Faktor – faktor yang perlu diperhatikan agar penggunaan sinar alami mendapat keuntungan, yaitu :
 
1. Variasi intensitas cahaya matahari
2. Distribusi dari terangnya cahaya.
3. Efek dari lokasi, pemantulan cahaya, jarak antar bangunan.
4. Letak geografis dan kegunaan bangunan gedung
 
2. Pencahayaan Buatan
 
            Pencahayaan buatan adalah pencahayaan yang dihasilkan oleh sumber cahaya selaincahaya alami. Pencahayaan buatan sangat diperlukan apabila posisi ruangan sulit dicapai oleh pencahayaan alami atau saat pencahayaan alami tidak mencukupi. Fungsi pokok pencahayaan buatan baik yang diterapkan secara tersendiri maupun yang dikombinasikan dengan pencahayaan alami adalah sebagai berikut:
 
1. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan penghuni melihat secara detail serta terlaksananya tugas serta kegiatan visual secara mudah dan tepat.
 
2. Memungkinkan penghuni berjalan dan bergerak secara mudah dan aman.
 
3. Tidak menimbukan pertambahan suhu udara yang berlebihan pada tempat kerja.
 
4. Memberikan pencahayaan dengan intensitas yang tetap menyebar secara merata, tidak berkedip, tidak menyilaukan, dan tidak menimbulkan bayang – bayang.
 
5. Meningkatkan lingkungan visual yang nyaman dan meningkatkan prestasi.
 Sistem pencahayaan buatan yang sering dipergunakan secara umum dapatdibedakan atas 3 macam yakni :
 
1. Sistem Pencahayaan Merata
 
            Pada sistem ini iluminasi cahaya tersebar secara merata di seluruh ruangan. Sistem pencahayaan ini cocok untuk ruangan yang tidak dipergunakan untuk melakukan tugas visual khusus. Pada sistem ini sejumlah armatur ditempatkan secara teratur di seluruh langit – langit.
 
2. Sistem Pencahayaan Terarah
 
            Pada sistem ini seluruh ruangan memperoleh pencahayaan dari salah satu arah tertentu. Sistem ini cocok untuk pameran atau penonjolan suatu objek karena akan tampak lebih jelas. Lebih dari itu, pencahayaan terarah yang menyoroti satu objek tersebut berperan sebagai sumber cahaya sekunder untuk ruangan sekitar, yakni melalui mekanisme pemantulan cahaya. Sistem ini dapat juga digabungkan dengan sistem pencahayaan merata karena bermanfaat mengurangi efek menjemukan yang mungkin ditimbulkan oleh pencahayaan merata.
 
3. Sistem Pencahayaan Setempat
 
            Pada sistem ini cahaya dikonsentrasikan pada suatu objek tertentu misalnya tempat kerja yang memerlukan tugas visual. Untuk mendapatkan pencahayaan yang sesuai dalam suatu ruang, maka diperlukan sistem pencahayaan yang tepat sesuai dengan kebutuhannya. Sistem pencahayaan diruangan, termasuk di tempat kerja dapat dibedakan menjadi 5 macam yaitu :
 
1. Sistem Pencahayaan Langsung (Direct Lighting)
 
            Pada sistem ini 90 – 100% cahaya diarahkan secara langsung ke benda yang perlu diterangi. Sistem ini dinilai paling efektif dalam mengatur pencahayaan, tetapi ada kelemahannya karena dapat menimbulkan bahaya serta kesilauan yang mengganggu, baik karena penyinaran langsung maupun karena pantulan cahaya. Untuk efek yang optimal, disarankan langi – langit, dinding serta benda yang ada didalam ruangan perlu diberi warna cerah agar tampak menyegarkan.
 
2. Pencahayaan Semi Langsung (Semi Direct Lighting)
 
            Pada sistem ini 60 – 90% cahaya diarahkan langsung pada benda yang perlu diterangi, sedangkan sisanya dipantulkan ke langit – langit dan dinding. Dengan sistem ini kelemahan sistem pencahayaan langsung dapat dikurangi. Diketahui bahwa langit – langit dan dinding yang diplester putih memiliki effiesien pemantulan 90%, sedangkan apabila dicat putih effisien pemantulan antara 5 – 90%.
 
3. Sistem Pencahayaan Diffus (General Diffus Lighting)
 
            Pada sistem ini setengah cahaya 40 – 60% diarahkan pada benda yang perlu disinari, sedangka sisanya dipantulkan ke langit – langit dan dinding. Dalam pencahayaan sistem ini termasuk sistem direct -indirect yakni memancarkan setengah cahaya ke bawah dan sisanya keatas. Pada sistem ini masalah bayangan dan kesilauan masih ditemui.
 
4. Sistem Pencahayaan Semi Tidak Langsung (Semi Indirect Lighting).
 
            Pada sistem ini 60 – 90% cahaya diarahkan ke langit – langit dan dinding bagian atas, sedangkan sisanya diarahkan ke bagian bawah. Untuk hasil yang optimal disarankan langit – langit perlu diberikan perhatian serta dirawat dengan baik. Pada sistem ini masalah bayangan praktis tidak ada serta kesilauan dapat dikurangi.
 
5. Sistem Pencahayaan Tidak Langsung (Indirect Lighting)
 
            Pada sistem ini 90 – 100% cahaya diarahkan ke langit – langit dan dinding bagian atas kemudian dipantulkan untuk menerangi seluruh ruangan. Agar seluruh langit – langit dapat menjadi sumber cahaya, perlu diberikan perhatian dan pemeliharaan yang baik.Keuntungan sistem ini adalah tidak menimbulkan bayangan dan kesilauan sedangkan kerugiannya mengurangi effisien cahaya total yang jatuh pada permukaan kerja. Penggunaan tiga cahaya utama adalah hal umum yang berlaku di dunia film dan photography. Pada presentasi arsitektural penggunaannya akan sedikit berbeda, walaupun masih dalam kerangka pemikiran yang sama. Agar pembaca lebih mudah memahami topik ini, saya menyertakan ilustrasi – ilustrasi gambar di bawah ini. Harap diingat bahwa topik ini tidak terkait dengan penggunaan software apapun, baik 3D Studio MAX, Lightwave, Maya, Softimage, ataupun software lainnya.
 
THREE POINTS LIGHTING :
 
            Ini sudah menjadi rumusan atau formula dasar sebuah pencahayaan dalam produksi video,film, dan foto. Tiga point penting itu terdiri atas :
 
1. Key Light : Key Light adalah pencahayaan utama yang di arahkan pada objek, Dan Merupakan sumber pencahayaan paling dominan atau pokok dalam frame tangkapan kamera. Biasanya, lebih terang dibandingkan dengan Fill Light. Dalam desain tiga point penahayaan, key light ditempatkan pada sudut 45 Derajat di atas objek.
 
2. Fill Light : Fill Light merupakan pencahayaan tambahan, yang biasanya digunakan untuk menghilangkan bayangan objek yang disebabkan oleh Key Light. Fill Light ditempatkan bersebrangan dengan objek yang mempunyai jarak yang sama dengan Key Light. Intensitas pencahayaan Fill Light biasanya setengah dari Key Light. Fill Light juga berguna untuk mengisi bagian yang gelap, Asalkan perbandingan gelap terang disesuaikan dengan adegan yang diinginkan.
 
3. Back Light : Adalah pencahayaan dari arah belakang objek, yang berfungsi memberikan dimensi agar objek tidak ”Menyatu” dengan latar belakang. Pencahayaan ini diletakkan 45 Derajat di belakang objek. Intensitas pencahayaan Back Light sangat tergantung pada pencahayaan Key Light dan Fill Light, dan tentu saja tergantung pada objeknya. Misalnya, Back Light bagi orang berambut pirang akan sedikit berbeda dengan warna rambut hitam.
 
4. Available Light : Adalah cahaya pendukung suasana, yang salah satu fungsinya ialah mempertegas suasana. Misalnya, menciptakan suasana malam hari atau mistis dengan lampu kebiruan. Atau, mendukung artificial shot suasana ruang disebuah tempat pada siang hari dengan cara memunculkan cahaya jatuh dari sela – sela jendela atau genting. Dalam tata cahaya, kadang diperlukan efek khusus. Efek cahaya lainnya yang sering kali digunakan adalah Eye Light, yakni sebuah lampu kecil dengan cahaya kuat yang ditempatkan didekat kamera. Karena cahanya lemah, lampu ini menimbulkan Fill Light dimata aktor. Selain itu, refleksinya akan membuat matanya berbinar. Adapun Background Light atau Set Light akan memberi cahaya pada tembok atau furniture.
 
           Pada dasar – dasar pencahayaan, selain tiga pencahayaan utama terdapat dua pencahayaan lain yang mendukung sebuah karya menjadi terlihat nyata yang disebut cahaya tambahan. Cahaya tambahan terdapat dua macam yaitu :
 
1. Cahaya Aksentuasi (Kickers light)
 
       Kickers berfungsi untuk memberikan penekanan (aksentuasi) pada objek -objek tertentu. Lampu spot adalah yang terbaik digunakan karena mempunyai kemiripan dengan sifat lampu spot halogen yang biasa dipergunakan sebagai elemen interior. Intensitas cahaya aksentuasi tidak boleh melebihi key light karena akan menciptakan “over exposure” sehingga hasil karya jadi terlihat seperti photo yang kelebihan cahaya.
 
2. Cahaya Pantul (Bounce light)
 
          Setiap benda yang terkena cahaya pasti akan memantulkan kembali sebagian cahayanya. Misalnya cahaya matahari masuk melalui jendela dan menimbulkan “pendar” pada bagian tembok dan jendela. Warna pendaran cahaya tersebut juga harus disesuaikan dengan warna material yang memantulkan cahaya. Semakin tingga kadar reflektifitas suatu benda, seperti kaca misalnya, semakin besarlah “pendar” cahaya yang ditimbulkannya. Pada program – program 3D tertentu seperti Lightwave dan program rendering seperti BMRT dari Renderman, atau Arnold renderer. Efek Bounce Light bisa ditimbulkan tanpa menggunakan bounce light tambahan. Program secara otomatis menghitung pantulan masing – masing benda berdasarkan berkas – berkas photon yang datang dari arah cahaya. Namun karena photon adalah sistem partikel, maka perhitungan algoritma pada saat rendering akan semakin besar. Artinya waktu yang diperlukan untuk rendering akan semakin besar. Ada kalanya proses ini memakan waktu 10 kali lebih lama dibandingkan dengan menciptakan bounce light secara manual satu persatu.
 
            Proses simulasi photon yang lebih dikenal sebagai radiosity tersebut sangat handal untuk menciptakan gambar still image, tetapi tidak dianjurkan untuk membuat sebuah animasi. Penggunaannya akan sangat tergantung kepada kondisi yang pembaca alami dalam proses pembuatan ilustrasi. Bounce light merupakan elemen yang sangat penting dalam menciptakan kesan nyata pada gambar kita. Tanpa bounce light maka ilustrasi arsitektur akan berkesan seperti gambar komputer biasa yang kaku dan tidak berkesan hidup. Pemantulan cahaya dibagi atas dua bagian yaitu :
 
1. Specular Reflection
 
            Pantulan sinar cahaya pada permukaan yang mengkilap dan rata seperti cermin yang memantulkan sinar cahaya kearah yang dengan mudah dapat diduga.
 
2. Diffuse Reflection
 
            Pantulan sinar cahaya pada permukaan tidak mengkilap seperti pada kertas atau batu. Pantulan ini mempunyai distribusi sinar pantul yang tergantung pada struktur mikroskopik permukaan.
 
Pencahayaan Dalam Ruangan
 
            Pencahayaan di dalam ruangan / indoor misalnya pencahayaan yang sudah ada (lampu neon atau lampu pijar). Pencahayaan ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan shooting, walaupun bisa jadi banyak kelemahan, diantaranya intensitas cahaya yang dihasilkan terlalu rendah untuk kepentingan shooting. Dengan teknologi video digital hal ini masih bisa diakali dengan menaikan iris, walau demikian pasti ada batas toleransinya. Ketika kita menaikan f – stop di kamera, mungkin gambar yang dihasilkan akan tampak grainy / bintik – bintik. Usahakan, obyek mendapat pencahayaan yang cukup, walaupun tidak selalu solusi yang baik, coba memindahkan obyek / subyek yang akan anda shoot pada area cukup cahaya dimana cahaya lampu itu jatuh.
 
            Jika anda akan shooting di dalam ruang kamar, anda bisa memanfaatkan cahaya matahari dari luar ruangan. Namun sekali lagi, anda harus mengatur posisi subyek agar mendapatkan intensitas pencahayaan yang diinginkan.
 
Luar Ruangan
 
            Ketika kita akan shooting di luar ruangan / exterior pada siang hari yang harus diperhatikan adalah arah matahari. Tidak terlalu disarankan untuk shooting dari jam 11 hingga jam 1 siang, karena cahaya matahari sedang terik – teriknya dan mungkin berada persis di atas obyek, yang artinya akan menimbulkan bayangan. Untuk menurunkan intensitas cahaya yang terlalu kuat, anda bisa memanfaatkan filter Neutral Density / ND yang ada pada kamera. Dengan menggunakan filter ini, cahaya yang berlebihan akan direduce / dikurangi sehingga menjadi normal. Saran saya, ketika harus shooting di siang hari dan hanya menggunakan available light, antara jam 2 hingga jam 4 sore. Untuk mengatur arah pencahayaan gunakanlah reflektor.
 
Menggunakan Reflektor
 
          Reflektor merupakan sebuah alat untuk merefleksikan atau memantulkan cahaya pada subyek. Reflektor untuk keperluan shooting (juga pemotretan) sudah banyak didesain oleh pabrik, tapi beberapa kawan dengan kreatif membuat reflektor sendiri.
 
Obyek Bergerak
            Jika menggunakan pencahayaan dengan lighting yang normal / artificial light dimana sumber cahaya bisa digeser untuk menyesuaikan cahaya yang harus didapatkan oleh obyek /subyek /area shooting kita. Beda halnya jika kita memanfaatkan available light. Saran saya, gunakanlah iris secara manual karena dengan demikian kita bisa menyesuaikan sumber cahaya yang masuk dengan mengontrol irisnya.
 
Cahaya dan Pencahayaan
            Shooting adalah melukis dengan cahaya. Unsur cahaya berarti sangat penting dalam pembuatan film maupun acara televisi. Cahaya tidak selalu berurusan dengan lampu. Ada sumber cahaya lain selain dari sumber lampu. Secara sederhana ada dua jenis sumber pecahayaan, yakni pencahayaan alami (natural) dan pencahayaan buatan (artificial).
 
            Cahaya merupakan gelombang elektromagnestis yang diterima oleh indera penglihat (mata) yang kemudian diteruskan ke otak yang akan merespon, menanggapi ransangan cahaya terebut. Sederhanya, tanpa cahaya maka benda tidak akan kelihatan. Atas dasar itulah, produksi film dan video memerlukan cahaya agar subyek bisa terlihat.
 
Pencahayaan televisi dan film memiliki fungís – fungsi berikut:
1. Menyinari obyek / subyek.
2. Menciptakan gambar yang artistik.
3. Menghilangkan bayangan yang tidak perlu.
4. Membuat efek khusus.
 
            Menyinari objek artinya memberikan pencahayaan agar objek atau subjek bisa terlihat jelas sesuai konsep film itu sendiri. Tidak semua bayangan itu diperlukan dan tidak semua bayangan tidak diperlukan. Dengan pencahayaan tertentu bayangan bisa dihilangkan, dikurangi, atau bahkan ditambah. Perlu tidaknya bayangan atau shadow, lagi – lagi sangat tergantung dari konsep film itu sendiri.
 
Arah Cahaya
 
Arah cahaya dari pencahayaan akan bergantung pada ketinggian dan sudut dari sumber cahaya tadi. Dari atas, bawah, atau rata dengan obyek? Dengan demikian kita akan tahu bayangan yang dihasilkan cahaya tadi jatuh dimana. Peletakan sumber cahaya di atas subyek akan menghasilkan efek yang berbeda jika dibandingkan dengan peletakkan sumber cahaya dari arah bawah subyek. Arah pencahyaan ini biasanya disebut sebagai down angle dan up angle. Dengan down angle akan menghasilkan bayangan yang jatuh kearah tubuh (kalau subyeknya orang). Sebagai contoh, konsep down angle bisa dilakukan pada scene interograsi, akan kelihatan dramatis. Sedangkan up angle akan menghasilkan pencahayaan yang kurang lazim, namun dengan penempatan pencahayaan seperti ini subyek akan kelihatan powefull dan gagah.
 
Kualitas Cahaya
 
            Kualitas pencahayaan berkaitan dengan keras atau lembutnya pencahayaan itu sendiri. Secara garis besar ada dua kualitas pencahayaan, yaitu hard light dan soft light. Hard light mempunyai karakteristik pencahyaan yang kuat dimana shadow atau bayangan lebih terlihat jelas. Softlight memiliki karakter sebaliknya, antara pencahayaan dengan bayangan hanya memiliki perbedaan yang tipis.
 
Rasio Pencahayaan
 
Lighting Ratio merupakan perbandingan antara brightness dan lightness. Misalnya perbandingan 2:1, dimana pencahayaan area terang dua kali lipat dibanding area gelap. Teknologi video memungkinkan sampai pada rasio 4:1, area terang memiliki intensitas 4 kali lebih terang dibandingkan area gelap. Jika lebih dari itu, maka unsur detail bayangan atau shadow akan hilang.
 
Kontrol Cahaya
 
Ini merupakan metode untuk menambah atau mengurangi pencahayaan dari sumber cahaya. Penambahan atau pengurangan ini untuk menghasilkan efek tertentu. Misalnya efek cahaya matahari yang memancar masuk pada jendela kamar tidur, digunakan translucent yang ditempelkan dekat sumber cahaya.
 
Mengukur Intensitas

            Intensitas cahaya yang yang dihasilkan dari key light, fill light,serta backlight bisa diukur oleh sebuah alat yakni Lightmeter. Ada dua jenis alat ini yaitu Incident and Reflectant. Incident diperuntukkan untuk mengukur intensitas cahaya yang “jatuh” pada subjek. Sedangkan Reflectant dipergunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipantulkan oleh subyek.
 
Jenis – jenis Lampu :
 
Banyak sekali jenis lampu yang digunakan dalam proses pengambilan gambar atau  shooting. Jenis lampu itu terdiri atas :
  1. Blonde : 1000-2000 Watt, biasanya digunakan sebagai pencahayaan flood untuk area yang luas.
  2. Readhead : 650 – 1000 Watt, digunakan sebagai key flood untuk area yang luas.
  3. Pepper Light : 100 – 1000 Watt, lampu dengan intensitas rendah digunakan khusus untuk key light atau fill light.
  4. HMI : ini merupakan jenis lampu kualitas tinggi.
  5. Hallogen : 100 – 500 Watt, digunakan sebagai key flood untuk area luas, jenis lampu ini biasanya digunakan untuk produksi dengan budgeting rendah.
  6. Fresnell : Jenis lampu yang memiliki lensa khusus yang memancarkan cahaya.
  7. Kinoflo : 400 Watt, digunakan sebagai key light untuk area yang luas.
Temperatur Warna
 
            Temperatur Warna merupakan kesan yang ditimbulkan oleh cahaya terhadap sebuah obyek ketika cahaya itu mengenai obyek. Ukuran temperatur warna dinyatakan dalam satuan derajat Kelvin (K). Semakin besar ukuran derajat Kelvin, maka warna obyek semakin putih, kebalikannya maka obyek akan terlihat semakin menguning.
 
Jenis – jenis Lighting (Pencahayaan) :
 
            Pada umumnya, ada dua jenis tata cahaya yang sering kali dipakai oleh kameramen. Kedua jenis tata cahaya utama yang dimaksud adalah sebagai berikut :
 
1. High Key : Adalah sebuah scene yang penampilannya lebih condong ke cerah. Efek dari tata cahaya High Key relatif hanya sedikit ada bayangan, tetapi penting juga ada sedikit bagian yang gelap sebagai indikasi bahwa High Key bukanlah Over Exposed.
 
2. Low Key : Adalah kebalikan dari High Key, yaitu hanya bagian – bagian pokok yang mendapatkan cahaya cukup, sedangkan bagian – bagian lainnya ada dalam bayangan gelap. Dalam hal ini, sering terjadi salah pengertian bahwa untuk mendapatkan efek low key, kita harus membuat Under Exposed. Sebenarnya, yang harus kita perhatikan adalah perbandingan ratio antara gelap dan terang. (Riezky Adrian, 25/2/2013).