Proses Kerja Penata Suara

Posted: February 25, 2013 in Let's Make A Movie
    Boomer
 
Penata Suara adalah seorang yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan audio, konsep serta kualitas audio yang dihasilkan menurut Diki Umbara dan Wahyu Wary Pintoko (2010;152).  Desain penata suara / audio apakah itu dialog, monolog, musik atau efek suara membantu memperkuat suasana ataood yang ingin dicapai oleh sebuah film atau drama. Desain tata suara yang baik sebaiknya dialog dan efek suara dirancang sedemikian rupa sehingga memenuhi film yang dibuat. Perencanaan tata suara juga membantu para kru yang bertanggung jawab menangani suara tahu pasti apa yang harus mereka kerjakan menurut Heru effendy (2009;67).
 
           Untuk menciptakan dan merekam suara, penata suara harus memahami karakteristik dasar yaitu : frekuensi dan amplitudo. Frekuensi adalah banyaknya getaran perdetik  dalam arus listrik yang terus berubah dan amplitudo merupakan tinggi maksimum dari sebuah gelombang. Selain itu seorang penata suara harus peka terhadap penyimpangan audio yaitu : distorsi dan noise. Distorsi adalah adanya perubahan yang tidak diinginkan dalam sinyal audio, pada umumnya disebabkan oleh usaha untuk mendapatkan perekaman tingkat sinyal audio yang terlalu tinggi untuk peralatan. Sedangkan noise adalah suara yang tidak dikehendaki yang masuk kedalam audio.
 
1. Pra Produksi Penata Suara
 
Dalam proses pra produksi ini penulis sebagai penata suara berdiskusi bersama tim untuk melakukan penentuan tema dan judul yang akan dijadikan sebagai karya non drama televisi tugas akhir. Pada akhirnya setelah melakukan diskusi dan menyatukan ide – ide tertuang, penulis beserta rekan lainnya sepakat untuk membuat sebuah format acara magazine show yang berjudul “I Like It”. Format acara ini, ditujukan untuk semua umur, maka penulis sebagai penata suara membuat konsep semenarik mungkin, agar  program “I Like It” ini, sehingga dapat diterima dan disukai masyarakat.
Penulis bertugas sebagai penata suara, dan pada tahap pra produksi penulis melakukan beberapa persiapan – persiapan yang akan dilakukan, agar pada saat produksi tidak terjadi kesalahan – kesalahan.
 
Penelaahan Naskah
 
Setelah penulis membuat naskah dan disetujui oleh produser dan kemudian dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh penulis, kemudian tim berkumpul untuk mendiskusikan konsep – konsep apa saja yang di inginkan oleh sutradara, baik dari segi pengambilan gambar, tata artistik, editing, pencahayaan, sampai pengambilan suara. Sampai pada akhirnya penulis merancang konsep pengambilan suara sesuai dengan naskah dan permintaan sutradara. Setelah konsep selesai dibuat, penulis memikirkan apa-apa saja yang diperlukan pada saat produksi, seperti: mic, , clip-on dan perlengkapan lainnya yang dibutuhkan.
 
Riset dan Survey Lokasi
 
Pada tahap riset dan survey lokasi, penulis sangat membutuhkan untuk mengetahui tempat atau lokasi yang nantinya akan digunakan untuk proses produksi yang bertujuan untuk mempermudahkan pada saat produksi berlangsung.
 
Membuat Daftar Peralatan
 
Setelah penulis tahu apa saja peralatan yang dibutuhkan dalam produksi nanti, maka selanjutnya penulis membuat daftar peralatan – peralatan, hal ini penulis lakukan guna mendata secara keseluruhan apa saja yang dibutuhkan dan meminimalis kesalahan pada saat produksi.
 
Hunting Peralatan
 
Setelah budget diterima, maka penulis mulai mencari dan menyewa peralatan – peralatan yang dibutuhkan dalam produksi nanti, setelah didapat semua, penulis memeriksa peralatan tersebut apakah kondisinya dalam keadaan baik atau tidak.
 
2. Produksi
 
Setelah proses pra produksi dipersiapkan secara matang, proses produksi pun dimulai. Produksi akan berjalan baik ketika semua proses di pra produksi sudah dilakukan dengan baik. Segala kekurangan dalam pra produksi hendaknya segera diselesaikan agar tidak mengganggu kelancaran pada proses berikutnya yakni produksi menurut Umbara dan Pintoko (2010;163)
Pada saat tahap produksi audio, penulis melakukan perekaman suara secara langsung (direct sound), kelebihan dari direct sound sendiri yaitu suara yang terekam akan mencerminkan mood pembawa acara saat pengambilan gambar dilakukan, dengan begitu suara yang terekam diperkuat oleh gambar dan suasana yang muncul saat pengambilan gambar. Sedangkan untuk kelemahan dari direct sound adalah dilokasi shooting sering muncul suara – suara yang tidak diinginkan dan tidak bisa dikendalikan, dan sebagai penata suara yang baik, penulis berusaha untuk bekerja dengan maksimal, selalu menjaga jarak mic / clip-on dengan host tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, agar suara yang dihasilkan tetap stabil dan sesuai dengan yang diinginkan. Penulis juga selalu melihat kondisi lokasi shooting pada saat perekaman suara, untuk meminimalisir terjadinya noise atau suara host lebih kecil dibandingkan dengan suara dari luar / suara yang tidak diinginkan, mengingat lokasi shooting dilakukan di tempat terbuka / outdoor. Selain itu juga, penulis sebagai penata suara juga melakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Memeriksa peralatan yang akan digunakan sebelum shooting  dilakukan.
  2. Menjaga  peralatan  yang berhubungan dengan pengambilan suara.
  3. Merapihkan dan memeriksa kembali peralatan setelah shooting dilakukan.
 3. Pasca Produksi
 
Pada tahap pasca produksi penulis sebagai penata suara bersama rekan lainnya melihat hasil video yang sudah di capture dan akan masuk ke tahap edit, dan penulis memberikan musik, dan ilustrasi musik kepada editor sesuai dengan yang diperlukan untuk dimasukkan didalam video, dan mendampingi editor dan sutradara dalam proses edit. Selain itu penulis juga membuat laporan kerja.
 
4. Peran dan tanggung jawab  Penata Suara
 
Dari pengertian diatas dapat diuraikan peran dan tanggung jawab penata suara secara garis besar :
  1. Membuat konsep  penata suara
  2. Berkonsultasi dengan sutradara tentang  penataan suara yang baik untuk diambil.
  3. Survey lokasi bersama tim.
  1. Menyiapkan alat – alat apa saja yang dibutuhkan untuk proses produksi.
  2. Memeriksa peralatan apakah dalam kondisi baik atau tidak sebelum dan sesudah shooting.
  3. Melakukan pengambilan suara sesuai konsep.
  4. Memperoleh suara dengan jelas baik itu suara host dan reporter, maupun pada saat wawancara, yang sesuai dengan naskah.
  5. Menjaga audio agar suara yang dihasilkan layak dan tidak terjadi noise.
  6. Menjaga keselamatan peralatan dan yang berhubungan dengan pengambilan suara.
  7. Mendampingi editor bersama sutradara untuk membuat ilustrasi musik, back sound dan sound effect pada tahapan edit.
5. Proses penciptaan karya
 
Konsep Kreatif
 
Setelah penulis naskah membuat naskah dan disetujui oleh produser dan sutradara yang kemudian dibaca, dipelajari, dan dipahami oleh penulis, pada saat itu pula penulis membayangkan sebuah konsep penataan suara yang easy listening, karena program acara ‘I Like it’, di tujukkan untuk remaja maka penulis membuat konsep kreatif. Penulis juga membayangkan sebuah konsep audio yang ceria sesuai dengan tema yang diusung yang dapat memanjakkan telinga penonton, dan juga membuat penonton tidak jenuh pada saat menonton. Penulis juga menambahkan beberapa (vo) untuk menjelaskan lokasi, selain itu penulis  juga menambahkan beberapa elemen musik, back sound, ilustrasi musik dan sound effect. Khusus untuk musik yang dipilih yaitu musik yang pada  saat ini popular/digemari oleh pemirsa.
 
Konsep Teknis
 
Dalam program “I Like it” ini, penulis untuk teknisnya dalam perekaman suara sendiri penulis menggunakan mic dan clip-on. Penggunaan  clip-on ini bertujuan  untuk merekam suara pembawa acara dan reporter pada saat melakukan wawancara dengan nara sumber, sedangkan  mic untuk merekam atmosfer yang ada disekitar lokasi shooting. Alasan pemilihan mic dan clip- on, penulis melihat dari sisi teknisnya yaitu audio yang dihasilkan cukup baik.
 
Konsep Produksi
 
Pada tahap produksi di program “I Like it” ini, penulis sebagai penata suara, bekerja sama dengan sutradara dan penulis naskah serta penata kamera untuk membicarakan konsep yang akan digunakan, agar pada saat produksi tidak terjadi kesalahan. Untuk konsep itu sendiri penata suara menambahakan back sound maupun sound effect.
 
1. Musik
 
Musik dimaksudkan untuk mempertegas sebuah video agar lebih menarik didengar. Apabila musik dimaksudkan sekedar latar belakang, maka musik masuk kategori element effect suara.
 
2. Back Sound
 
Back sound dimaksudkan untuk mengiringi sebuah potongan video agar penonton tidak jenuh menontonnya.
 
3. Ilustrasi Musik
Ilustrasi musik adalah suara, baik dihasilkan melalui instrument musik atau bukan yang disertakan untuk memperkuat suasana atau perekaman langsung sebagai latar belakang adegan saat itu.
 
Sound Effect
 
Suara yang ditimbulkan oleh aksi dan reaksi dalam program dalam elemen efek suara. Efek suara perlu untuk memanjakkan telinga penonton, maka penata suara yang baik akan memasukkan semua bunyi yang masuk akal dengan cerita dan menghilangkan semua yang tidak perlu. Dalam pembuatan sound effect beberapa segment menggunakan sound effect dari meja editing.
 
6. Kendala produksi dan Solusinya
 
Dalam setiap proses produksi, mulai dari konsep hingga paska produksi tentu selalu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Kendala produksi sudah tidak lagi menjadi sebuah hal yang mustahil, bahkan itu adalah sebuah bentuk kemajuan dalam proses berfikir dan tentu menjadi pembelajaran bagi semua pihak.
  1. Kendala pada saat produksi berlangsung, talent yang memiliki tingkat emosional lebih, menjadikan proses produksi pun sedikit terhambat, dan solusi yang kami gunakan adalah, berusaha lebih sabar dan mengerti sifat talent, agar talent merasa nyaman dan mau melanjutkan produksi.
  2. Kendala penata suara saat produksi adalah pada saat shooting di Gelora Bung Karno, saat pengambilan gambar host, banyak kendaraan yang melewati dan saat pengambilan gambar di Toko, banyak Customer berbicara kencang dan saat pengambilan gambar di Arena Laps banyak suara yang keluar dari knalpot remote control dari peserta dilokasi syuting atau produksi berlangsung. Solusi yang kami lakukan adalah menjaga jarak agar tidak terlalu noise didalam hasil gambar yang diambil.
SPESIFIKASI  AUDIO
Condensor ECM 673 Shotgun
Type of mic                 : Condensor Sony ECM 673
Sound monitor          : Headset
Headset                       : Expand
Clips-On                      : Sennheiser EW 100 G2
Microphone                : Madness AW-70A        
 
Sennheiser EW 100-ENG G2
 
Spesifikasi Sennheiser EW 100-ENG G2
 
Transmit / menerima frekuensi       :  1440
Presets                                                       :  4
Switching bandwidth yang             :  36 MHz
Puncak deviasi                                   :  + / – 48 kHz
Compander                                         :  HDX
Frekuensi respon (Mikrofon)          :  40 Hz …. 18000
Sinyal untuk rasio kebisingan        :  > 110 dB (A)
THD pada 1 kHz                                 :  <0,9%
Sesuai                                                 :  ETS 300422, 300445 ETS, CE, FCC
Audio koneksi                                    :  Jack 3,5 mm
Audio tingkat output                         :  +10 DBU max
(Tidak seimbang)
Dimensi (Receiver)                            :  82 x 64 x 24 mm
Berat (Receiver)                                 :  158 g
RF output daya                                   :  30 mW
Waktu operasi (transmitter)              :  > 8 jam
Tegangan input kisaran            :  Mic / Line: 1.8V / 2.4V (SK100G2) Mic: 1.2V (SKP100G2)
Dimensi (Transmitter)                  :  82 x 64 x 24 mm (SK100 G2
105x43x43mm (SKP100G2)
Berat (Transmitter)                     :  158 g (SK100G2), 19 (SKP100G2)
Transducer, mikrofon jenis      :  Electret
AF sensitivitas                             :  20 mV / Pa
SPL pada 1kHz                            :  130 dB (SPL) maks.
Directivity                                      :  Omni Directional
 
Spesifikasi Condensor Sony PD177(Mic. EMC673
 
Condensor Sony PD177
 
Headphones                                            :  Stereo mini jack (ø3.5 mm)
LANC                                                    :  Stereo mini-mini jack (ø2.5 mm)
 
Lembar Kerja Audioman
  1. Konsep penata Audio dan ilustrasi
  2. Spesifikasi Kebutuhan Audio
7. Kesimpulan Penata Suara
 
Penata Suara adalah seorang yang bertanggung jawab atas segala yang berhubungan dengan audio, konsep serta kualitas audio yang dihasilkan. Pada proses pelaksanaan film non drama (Magazine Show) Tugas Akhir ini, saya mendapatkan kepercayaan oleh tim sebagai penata suara. Di produksi program ini saya banyak memperoleh ilmu dan pengalaman, terutama dibidang Audio yang sesuai dengan jobdesk saya diprogram acara ‘’I LIKE IT’’ ini. Saya jadi lebih  mengetahui hal – hal apa saja yang saya lakukan dari pra produksi, produksi dan paska produksi, didalam proses tersebut banyak kendala dari teknis dan non teknis, kendala tersebut bisa teratasi   atas dasar kerja sama tim yang solid dan juga hasil yang maksimal.
 
Sampai pada akhirnya film non drama ( Magazine Show) ini selesai sampai pada tahap paska produksi merupakan kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri bagi penulis dan rekan tim produksi yang terlibat. terlebih ketika penulis menemukan berbagai kendala dalam penyelesaian semua kendala sebagai bahan pembelajaran untuk berkarya yang lebih baik di masa yang akan datang. (Riezky Adrian. 25/2/2013).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s