Psikologis anak adalah lingkungan, Orang tua sebagai jaminan

Posted: January 7, 2014 in PSYCHOLOGY

Save Children !

Belakangan ini sering kali kita melihat di televisi kekerasan dalam rumah tangga khususnya pada anak – anak, entah kenapa kejadian tersebut kerap terjadi berulang kali hingga jangka waktu yang amat panjang, apa penyebab orang tua kerap melakukan tindakan demikian kepada anak – anak mereka.

Munculnya kekerasan ini tentu tidak datang begitu saja. Melainkan ada faktor penyebab atau pemicunya. Inilah pemicu dari kekerasan pada balita yang harus dihindari, diantaranya :

  1. Kekerasan dalam rumah tangga. Ini kaitan sangat erat, sebab dalam keluarga yang mengalami kekerasan akan melibatkan ayah, ibu, atau saudara lainnya. Kemudian anak seringkali menjadi sasaran kemarahan dari orangtua.
  2. Pengalaman masa lalu orangtua atau pengasuh yang buruk. Bila ia dulu pernah menjadi korban penganiayaan anak dan terpapar oleh kekerasan dalam rumah, tak menampik kemungkinan, ia melakukan hal yang sama pada anak sendiri atau anak yang diasuhnya. Bisa jadi ini merupakan salah satu bentuk balas dendamnya atau proses imitasinya.
  3. Kondisi anak. Untuk anak yang kekurangan atau tidak normal secara fisik atau psikis, kemungkinan besar mampu memicu stres orangtua atau orang dewasa lain yang mengasuhnya. Pengasuh merasa tidak sabar menghadapi si anak, kemudian ia melakukan cara kekerasan agar anak mau menurut padanya.
  1. Lingkungan. Imitasi sangat lekat dengan kehidupan manusia. Saat orangtua atau pengasuh belajar cara mengasuh anak dari lingkungan yang kasar atau dari acara televisi yang menampilkan kekerasan, ia dapat menirunya.
  2. Faktor ekonomi. Kekerasan dapat timbul karena tekanan ekonomi. Amarah karena belum menemukan jalan keluar dari masalah ekonomi ditumpahkan pada anak. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi untuk kasus kekerasan pada anak.

    Jangan Sampai Balita Jadi Korban Kekerasan

  1. Orang tua harus peka dan mendeteksi secara dini, agar balita yang menjadi korban kekerasan dapat segera terselamatkan. Jangan sampai kekerasan ini. Terjadi pada balita anda.
  1. Asal mula kekerasan anak sebelum mengupas tuntas tentang kekerasan anak, sudah tahukan anda yang disebut dengan kekerasan, atau apa saja yang termasuk dalam kategori tindak kekerasan.
  1. Berdasarkan definisinya, kekerasan adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa, menganiaya, seseorang baik disengaja maupun tidak disengaja, terdiri atas 4 macam yaitu :
  1. Fisik yaitu kekerasan yang dilakukan pada fisik anak  yang menggunakan anggota tubuh lain seperti tangan dan kaki ataupun dengan bantuan benda lain. Contoh : Menjewer, memukul, menyentil, menusuk dengan benda tajam, melempar barang ke arah badan anak.
  1. Psiklogis yaitu kekerasan yang dilakukan pelaku yang dampaknya mempengaruhi fisik. Kekerasan ini berbeda seperti kekerasan fisik, karena tidak meninggalkan bekas secara nyata. Contoh : Membentak, menghina, memberikan label negative (Nakal atau cengeng).
  1. Seksual yaitu kekerasan yang bersifat seksual atau berhubungan dengan alat genital anak, seperti penis, vagina, atau dubur. Contoh : Pemerkosaan atau memasukan benda kedalam alat genital.
  1. Penelantaran yaitu kekerasan yang sifatnya menelantarkan atau membiarkan anak tidak terurus. Contoh : Tidak memberi susu atau makanan pada anak, membiarkan anak tidak memakai pakaian selama berjam – jam, atau membiarkan anak minum atau makanan yang sudah kadarluasa.

Trauma Pada Anak Akibat Kekerasan

Kekerasan pada anak memang akan menimbulkan luka psikologis yang berkepanjangan. Inilah trauma jangka panjang anak korban kekerasan yang sedapat mungkin bisa dicegah.

1. Agresif. Sikap ini biasanya ditunjukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Umumnya ditunjukan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat orang yang dianggap bisa melindunginya itu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh.

2. Peringatan. Tidak semua sikap agresif anak muncul karena telah mengalami tindak kekerasan.

3. Murung atau depresi. Kekerasan mampu membuat anak berubah drastic, seperti menjadi anak yang memiliki gangguan tidur dan makan, bahkan bisa disertai dengan penurunan berat badan. Anak juga bisa menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Ia menjadi anak pemurung, pendiam dan terlihat kurang ekspresif.

4. Mudah menangis. Sikap ini ditunjukan karena anak merasa tidak aman dengan lingkungannya. Karena ia kehilangan figur yang bisa melindunginya. Kemungkinan  besar, anak menjadi sulit percaya dengan orang lain.

5. Melakukan tindak kekerasan pada orang lain. Semua ini anak dapat karena ia melihat bagaimana orang dewasa memperlakukannya dulu. Ia belajar dari pengalamannya kemudian bereaksi sesuai yang ia pelajari.

6. Secara kognitif anak bisa mengalami penurunan. Akibat dari penekanan kekerasan psikologisnya atau bila anak mengalami kekerasan fisik yang mengenai bagian kepala. Hal ini bisa mengganggu fungsi otaknya.

Semoga dengan pembelajaran ini, kita dapat lebih baik lagi bagaimana cara menjaga dan mencintai buah hati, yang sekiranya kelak akan menjadi penerus sebuah generasi dalam keluarga, lingkungan, dan negara. (Riezky Adrian, 8/1/2014).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s